Showing posts with label Perang. Show all posts
Showing posts with label Perang. Show all posts

Wednesday, April 20, 2016

Abu Ubaidah bin Jarrah : Kisah memilukan perang badar

Dalam perang Badr Abu Ubaidah bin Jarrah membunuh ayahnya sendiri Abdullah bin Jarrah. Nah, kisah ini akan kami ceritakan untuk kali ini.

Dalam perang Badr, Abu Ubaidah bin Jarrah radhiallhu 'anhu berada di pihak kaum Muslimin. Sementara ayahnya, Abdullah bin Jarrah berada dalam barisan kaum Musyrikin. Dalam pertempuran itu, orang-orang musyrik lebih memilih menghindar daripada harus bertemu dengan Abu Ubaidah bin Jarrah radhiallahu 'anhu kecuali satu orang yaitu ayahnya sendiri Abdullah bin jarrah. Sebenarnya Abu Ubaidah bin Jarrah radhiallahu 'anhu selalu menghindar dari sang ayah, tetapi apa boleh buat, justru sang ayah sendiri yang datang mencarinya untuk membunuhnya. meskipun demikian Abu Ubaidah bin Jarrah radhiallahu 'anhu berusaha keras untuk terus menghindar dari ayahnya. akan tetapi, kemanapun beliau pergi ayahnya terus mengejarnya. Akhirnya takdir berbicara, kedua pedang akhirnya bertemu. Sang ayah berperang dalam barisan pembela kesyirikan dan kekafiran sementara sang anak berada dalam barisan Keimanan kepada Allah Azza wa Jalla.

Maka, ayah dan anak itu pun terlibat dalam pertempuran yang sangat sengit. Abu Ubaidah menyambar dan mencabik-cabik ayahnya, yang merupakan anggota keluarganya hingga menewaskannya.

Setelah pertempuran tersebut kaum musyrikin selalu membicarakan kebengisan Abu Ubaidah bin Jarrah Radhiallahu 'anhu dalam pertempuran dimana ia telah menewaskan ayahnya sendiri. Di sisi lain, kaum muslimin memperbincangkan keteguhan iman Abu Ubaidah bin Jarrah radhiallahu 'anhu. Hal ini justru membuat hati Abu Ubaidah bin Jarrah menjadi gundah gelisah.

Namun Allah Azza wa Jalla menghibur beliau dengan menurunkan firmannya yang kini termaktub dalam Al-Quran surah Al-Mujadilah ayat 22 yang berbunyi:

"Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir, saling berkasih sayang dengan orang orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak, atau saudara-saudara, atau pun keluarga mereka

Ayat inilah yang memberikan penghargaan atas perbuatan yang dilakukan oleh Abu Ubaidah bin Jarrah radhiallahu 'anhu, yaitu ketika ia berperang dan membunuh ayahnya demi keimanan kepada Allah Azza wa Jalla.

Semoga kisah ini dapat membuat kita makin cinta dan sayang kepada Allah dan Rasul-Nya, sehingga kita mampu berdiri tegar di garda terdepan demi membela Agama Allah ini.

Tuesday, April 05, 2016

Khalid bin Walid : Pembebasan Iraq

Semasa pemerintahan Daulah khilafah pada masa khulafau rasyidin isalam disebarkan dengan dakwah dan jihad. Pada masa khalifah Abu Bakr memimpin daulah Islam wilayah Islam bertambah luas meliputi Iraq dan Syam. Tentunya hal ini tidak lepas dari peran sang panglima perang kala itu, Khalid bin Walid. kali ini kami akan berbagi kisah bagaimana peran Khalid dalam membebaskan Iraq.

Khalifah Abu Bakr menyadari, bahwa Imperium Persia di Iraq dan Imperium Romawi di Syam merupakan dua buah kekuatan adidaya yang sangat membahayakan. Peran kedua negara ini sangat jelas pengaruhnya dalam menyulut perang Riddah yang sebenarnya bertujuan merongrongkekuatan Islam. Untuk mengatasi hal tersebut, diutuslah Khalid untuk mengajakmereka masuk kedalam Islam, atau kalau mereka menolaknya, masih ada dua opsi lain membayar Jizyah yang artinya mereka masuk kedalam Daulah Islam ataukah Perang.

Pertempuran yang pertama kali yang dijalani Khalid bin Walid dalam misinya kali ini adalah Pertempuran Hufair yang letaknya dekat dengan teluk Basrah yang masih dibawah kekuasaan Gubernur Hormuz. Pasukan Persia menggunakan rantai yang mengikat mereka agar tidak melarikan diri dari medan perang. Hormuz membuka peperangan ini dengan perang tanding melawang Khalid. Pada awalnya Hormuz berniat melakukan tipu muslihat terhadap Khalid dengan menyiapkan beberapa komandan terpilihnya untuk ikut menyerang Khalid. Akan tetapi, tidak berselang lama Khalid menyudahi perang tersebut dengan membunuh Hormuz. Setelah itu, kaum muslimin menyerbu pasukan Persia dengan kemenangan dipihak kaum Muslimin. Sementara itu, Khalid berhasil mengambil kopiah Hormuz yang menjadi simbol kebesaran Persia, lalu mengirimkannya kepada Baitul Mal. Hanya saja khalifah Abu Bakr menghadiahkannya kepada Khalid bin Walid atas jasa dan keberaniannya.

perang ini kemudian terkenal dengan sebutan Dzatu As-salaasil (Pertempuran Rantai), karena para tentara persia dirantai satu sama lain agar tidak melarikan diri dari pertempuran.

Setelah pertempuran Hufair ini, berturut-turut setelahnyaterjadi tiga peperangan lainnya. sebelumnya, ketika Khalid berhadapan dengan Hormuz di Hufair, Hormuz sempat mengirim pesan ke Istana Kisra untuk meminta bantuan. permintaan Hormuz tersebut disambut istana Kisra dengan mempersiapkan bala tentara yang lebih besar dengan dipimpin seorang panglima bernama Qarun.Akan, tetapi, ketika mereka mendapati pasukan Hormuz kalah dari tentara kaum muslimin, maka bala bantuan pasukan Persia pun mundur ke Tsiny, yang bermakna sungai. Meskipun demikian, Khalid terus mengejar mereka, memerangi, dan menawan mereka. Diantara para tawanan itu terdapat Abu Hasan al-Basri, seorang ulama besar yang saat itu masih memeluk Nasrani.

Setelah itu Khalid melanjutkan ekspedisinya ke Hirah. Setelah melakukan beberapa pertempuran kecil, dia dan pasukannya berhasil membebaskan seluruh Hirah pada bulan Rabiul awal tahun 12 H.

Dari Hirah, Khalid memimpin pasukannya menuju Daumatul Jandal untuk membantu Iyadh bin Ghanam yang saat itu sedang melakukan pengepungan terhadap benteng pertahanan. Bersama pasukan Iyadh, Khalid dan pasukannya melanjutkan pengepungan. Pemimpin pasukan Daumatul Jandal, Judi bin Rabiah bersama sekelompok pasukannya menyerang pasukan Iyadh, sementara kelompok pasukan murtad yang ke dua ditugaskan untuk memerangi Khalid beserta pasukannya. Akhirnya dua kelompk itu dapat dikalahkan dan Kaum Muslimin dapat menguasai bentengmereka.

peristiwa terakhir di Iraq yang dialami Khalid adalah Perang Firadh, yang terjadi disebelah utara Iraq.

Semoga kita dapat mengambil hikmah dari kisah para sahabat.

Khalid bin Walid : Penumpasan Musalimah al-Kadzdzab

Salah satu momok terbesar dari pemerintahan khalifah Abu Bakr radhiallahu 'anhu adalah Musailamah al-Kadzdzab. Dan Pada saat itu khalifah Abu Bakr mengutus Khalid bin Walid untuk menumpas Musailamah yang mengakibatkan sebahagian besar para penghapal Qur'an syahid. kami akan berbagi sedikit kishnya.

Perkara yang muncul tidak hanya pada Malik bin Nuwairah atau pada Thulaihah al-Asadi, tetapi ada yang jauh lebih besar dan kuat pengaruhnya yaitu Musailamah al-Kadzdzab. dia bukan hanya mengaku sebagai nabi, bahkan lebih dari itu dia mendapatkan dukungan terbesar dari kaumnya, Bani Hanifah yang terletak di Yamamah, sebuah daerah di Yaman. Selain itu, seorang wanita bernama sajah yang juga mengaku sebagai nabi ikut turu bergabung dengan Musailamah. Bahkan Sajah menikah dengan Musailamah. dengan perkawinan mereka, dua buah kekuatan mereka dapat di bersatukan. 
 
Khalid bin Walid datang dengan bala tentaranya. Dia memberikan semangat kepada para prajuritnya untuk berjihad dengan gagah beranidemi menumpas Musailamah dan komplotannya. Akhirnya, kaum muslimin berhasil memenangkan pertempuran yang sengit itu. korban dari pihak kaum muslim sebanyak 2.000 jiwa yang mati dan mendapatkan gelar sebagai syuhada dalam pertempuran tersebut. namun, sebgahagian dari mereka adalah para penghapal Qur'an. sedangkan korban tewas dari pihak lawan dalam hal ini adalah pihak Musailamah dan isterinya Sajah sebanyak 10.000 jiwa.
 
Dengan berakhirnya Penumpasan di daerah Yamamah tersebut, berakhir pula misi penumpasan kaum murtad di Jazirah Arab. Tak henti-hentinya kaum muslimin memanjatkan syukur kepada Allah azza wa jalla atas padamnya api fitnah itu untuk selamanya.
 
Semua itu tak lepas dari peran Abu Bakr sebagai khalifah saat itu dan tentunya berkat jasa panglima perang yang bijak, Saifullah al-Masluul (pedang Allah yang terhunus), Khalid bin Walid bin Mughirah radhiallahu 'anhu.

Semga kita dapat mengambil pelajaran dari kisah ini.

Monday, April 04, 2016

Khalid bin Walid : Perang Riddah

Siapa yang tak mengenal sahabat Khalid bin Walid. seorang panglima perang dimasa
Rasulullah dan masa khalifah Abu Bakr. kali ini kami akan berbagi kisah tentang
peran Khalid bin Walid dalam perang Riddah.

Setelah Nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wa salam wafat, tanah yang diinjak kaum
muslimin serasa sempit. Orang-orang yang suka berbuat onar dan orang munafik
kembali pada kekafiran dan kesesatan mereka secara nyata. Akibatnya, banyak
penduduk Arab yang dulunya memproklamirkan keislamannya kini murtad dan enggan
membayar zakat. pada saat yang demikian inilah, khalifah pertama, Abu Bakr
radhiallahu 'anhu, mengambil kebijakan untuk menumpas gerombolan mereka demi
memadamkan api fitnah kemurtadan. Tidak ketinggalan Khalid bin Walid radiallahu
'anhu, dia pun mengambil peranan penting dalam usaha tersebut sebagaimana yang
banyak dituliskan oleh tinta emas sejarah.

Khalid bin Walid bergerak bersama pasukannya untuk melakukan penumpasan terhadap
Thulaihah al-Asadi, salah seorang yang mengaku sebagai nabi. pergerakan Khalid bin
Walid radhiallahu 'anhu ini tentunya atas perintah khalifah saat itu Abu Bakr
radhiallahu 'anhu. Thulaihah telah mempersiapkan 40.000 pasukan untuk menghadapi
Khalid dan pasukannya. Pecahlah pertempuran sengit, dan kaum muslimin bertempur
dengan gagah berani. Akhirnya, kemenangan berpihak kepada pasukan Islam, sementara
kekalahan menghampiri kaum pemberontak yang munafik. hasilnya, pasukan murtadin
kocar-kacir dan mereka lari tunggang langgang. Akan tetapi, Khalid bin Walid
beserta pasukannya berhasil mengejar mereka hingga terlaksanalah apa yang menjadi
perintah Khalifah Abu Bakr radhiallahu 'anhu.

Selanjutnya, Khalid bersama pasukannya mengarahkan langkah kaki menuju tempat Malik
bin Nuwairah, seseorang yang memprovokasi penduduk agar tidak membayarkan zakat ke
Madinah. Setelah berhasil membunuh Malik bin Nuwairah, Khalid bin Walid memperistri
jandanya. Hal inilah yang sempat membuat Umar bin Khattab radhiallahu 'anhu sedikit
berang melihat ulah Khalid bin Walid, sehingga ia meminta kepada Abu Bakr
radhiallahu 'anhu menolaknya, "Demi Allah, aku sekali-kali tidak akan menyarungkan
pedang yang Allah subhanahu wata'ala telah menghunuskannya untuk memerangi kaum
musyrikin.

Semoga sepenggal kisah sahabat Khalid bin Walid ini bermanfaat bagi kita semua.

Sunday, April 03, 2016

Khalid bin Walid : Perang Mu'tah

Kemarin kita telah mengetahui kisah masuknya Khalid bin Walid kedalam Islam. Nah,
sekarang kami akan berbagi kisah Perang Mu’tah. Masih dengan tokoh utama Khalid bin
Walid.

Cahaya Islam telah menembus kedalam relung hati Khalid bin Walid yang terdalam.
Setelah itu , dia benar-benar menjadi “Pedang Allah Yang Terhunus”. Dalam peranf
Mu’tah , Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam menunjuk Zaid bin Haritsah sebagai
pemimpin pasukan. Kemudian, apabila ia gugur tampuk kepemimpinan dilanjutkan oleh
Ja’far bin Abu Thalib, dan apabila ia juga gugur dilajutkan oleh Abdullah bin
Rawahah. Pada peperangan mu’tah itu, ketiga sahabat radhiallahu ‘anhu tersebut
benar-benar gugur di medan perang. Akhirnya, kaum muslimin mencari siapa orang yang
akan memimpin pasukan. Merekapun sepakat untuk mengangkat Khalid bin Walid sebagai
komandan pasukan setelah ketiga sahabat tersebut syahid di medan perang. Shabat
yang telah ditunjuk oleh baginda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam untuk
menjadi panglima perang.

Pada perang tersebut, jumlah pasukan kaum muslimin lebih sedikit daripada pasukan
perang Romawi. Bahkan jumlah pasukan Romaswi berkali lipat lebih banyak dari
pasukan kaum Muslimin.

Bagi Khalid bin Walid radhiallahu ‘anhu, tidak ada pilihan lain kecuali menarik
mundur pasukan kaum muslimin untuk menghindari kerugian yang jauh lebih banyak.
Akhirnya kaum muslimin mundur dan kembali ke Madinah dengan jumlah korban yang
sedikit. Melihat keputusan Khalid bin Walid ini, para penduduk Madinah menyambutnya
dengan penuh celaan dan menjuliki pasukannya itu sebagai “orang-orang yang lari
dari peperangan”.

Namun, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam justru menghargai keputusan Khalid
bin Walid. Beliau pun bersabda, “Sesungguhnya mereka itu akan kembali (melakukan
penyerangan) dengan izin Allah, dan sekali-kali mereka bukanlah orang-orang yang
lari dari peperangan. Adapun Khalid, dia tetap menjadi pedang Allah”.

Seperti itulah kisah Khalid bin Walid dalam perang Mu'tah. Semoga kita dapat
mengambil pelajaran dalam setiap kisah dari para shabat radhiallahu 'anhum.

Popular Posts

Powered by Blogger.

Facebook