Showing posts with label Khalid. Show all posts
Showing posts with label Khalid. Show all posts

Wednesday, April 20, 2016

Khalid bin Walid : Pesan terakhir

Untuk kali ini kami akan berbagi kisah tentang akhir hayat sang Syaifullah al-Maslul, mungkin lebih tepatnya pesan beliau sebelum wafat kepada para pemuda dan para kaum Muslimin yang terkena dan terjangkit penyakit al-Wahn.

Di saat ajalnya menjelang, Khalid bin Walid radhiallahu 'anhu sempat berkata. "Aku telah berperang sebanyak 100 kali atau bahkan lebih, untuk mencari kesyahidan. Tidak ada di anggota tubuhku ini melainkan mendapat mendapat bekas luka tusuk, sayatan, atau bekas luka terkena anak panah. Akan tetapi, inilah aku sekarang, aku akan menemui ajalku di tempat tidur seperti unta tua yang akan mati. Maka janganlah tidur wahai mata para pengecut."

pesan ini ditujukan untk seluruh kaum muslimin agar selalu siap siaga hingga kalimat Laa ilaha illa Allah Muhammad Rasulullah tegak di Bumi Allah, dan hingga saatnya kita menjemput kembali kemenangan yang di Jnajikan Allah melalui Lisan Allah untuk menaklukkan kota Roma.

Khalid bin Walid radhiallhu 'anhu wafat pada masa kehilafaan Umar bin Khattab radhiallahu 'anhu. Khalifah Umar sangat berduka atas wafatnya khalid. Semoga Allah merahmati Khalid. Jarang sekali ada panglima perang d dunia ini yang mendapatkan kemenangan dalam setiap pertempuran sebagaimana Khalid bin Walid radiallahu 'anhu "Si Pedang Allah Yang Terhunus."

Semoga kita dapat mengambil hikmah dari kisah ini.

Khalid bin Walid : Pemberhentian sebagai Komandan

Pada saat khalifah Abu Bakr wafat dan digantikan dengan Umar bin Khattab maka Khalid bin Walid digantikan sebagai panglima perang. Kali ini kami akan berbagi kisah pemberhentian Khalid sebagai Komandan.

Seiring berjalannya waktu, sampailah surat khalifah Umar bin Khattab radhiallahu 'anhu kepada penduduk Syam yang mengabarkan wafatnya Abu Bakr radhiallahu 'anhu. Berikut petikan isi surat tersebut:

"Bismillahirrahmanirrahiim. Dari hamba Allah, Umar, Amirul mukminin, kepada orang-orang yang berada di Syam.

Semoga kesejahteraan terlimpah kepadamu. Sungguh telah terjadi pada umat ini bahwa Abu Bakr, Khalifah Rasulullah, telah wafat, Innalillahi wa Inna Ilaihi Raji'un. semoga rahmat dan ridho Allah tercurahkan kepadanya, yang telah menegakkan kebenaran, berkata jujur, memerintah dengan jujur,  memutuskan dengan adil, baik, lembut, penyanyang, pemurah, menjaga diri, dan bijaksana. dialah yang selalu berusaha mendapat rahmat Allah, beramal dengan dasar taat kepada-Nya, dan semoga kekal dalam jannah-Nya dan sungguh Dia-lah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Jika telah sampai suratku ini kepadamu, dan kalian telah membacanya maka ketahuilah bahwa panglima kalian sekarang adalah Ubaidah bin Jarah dan dialah yang menjadi pimpinan tertinggi kalian."

Khalifah Umar juga menulis surat kepada Abu Ubaidah bin jarah yang diselipkan diantara lipatan surat sebelumnya. Isi surat tersebut adalah:

"Bismillahirrahmanirrahiim. Dari hamba Allah, Umar, Amirul Mukmiin, kepada Abu Ubaidah bin Jarrah.

Semoga kesejahteraan terlimpahkan kepadamu.

Amma ba'du:

Segala Puji bagi Allah, sekarang engkau beradadi tengah-tengah kaum Muslimin dengan jumlah yang mencukupi untuk berperang melawan penduduk Damasskus. Jika suratku ini sampai di tanganmu, amka bacakanlah kepada orang sebelummu (dalam hal ini yang di maksud adalah Khalid bin Walid) dan kabarkanlah kepadanya bahwa engkaulah yang memerintah kaum Muslimin di Syam."

Namun, ketika surat itu sampai di tangan Abu Ubidah radhiallahu 'anhu, beliau sungkan mengabarkan hal tersebut kepada Khalid bin Walid dan tetap shlat bermakmum di belakang Khalid bin Walid tanpa menunjukkan sesuatu apa pun. Lama kelamaan, Khalid bin Walid pun mendengar bahwa dirinya dipecat karena telah banyak orang yang memanggil Abu Ubaidah dengan sebutan "Amir". Dengan begitu, Khalid tahu dan yakin bahwa dirinya telah dipecat.Akan tetapi, dengan tenang dia berkata, Semoga Allah merahmati Abu Bakr. Andai dia masih hidup niscaya dia takkan memecatku selama-lamanya. Wahai Abu Ubaidah, semoga ALlah merahmatimu, mengapa engkau tidak memberitahu pemecatanku dan tentang kepemimpinanmu atas diriku? Bahkan engkau justru sholat di belakangku padahal engkau adalah pemimpinku."

Pemberhentian Khalid oleh khaifah Umar radiallahu 'anhu bukan di dasari oleh kebencian atau lemahnya Khalid. Ketika Khalifah Umar ditanya tentang motif pemberhentian itu, beliau menyatakan, "Aku tidak memecatnya dengan begitu saja atau karena dia berkhianat, tetapi karena orang-orang terlalu terpesona dengan kehebatan Khalid. Aku Khawatir, mereka akan bergantung kepadanya.

Pemecatan ini membuat sejumlah orang yang benci kepada khalifah Umar sebagai celah untuk mengolok-oloknya. Naudzubillah, Sungguh pemecatan Khalid oleh Khalifah Umar bukanlah berlandaskan oleh nafsu, melainkan berdasarkan pertimbangan yang matang.

Semoga kita dapat mengambil pelajaran dari kisah ini.

Tuesday, April 05, 2016

Khalid bin Walid : Pembebasan Syam

Untuk kali ini kami akan berbagi tentang kisah Khalid bin Walid dalam membebaskan Syam. Setelah khalifah Abu Bakr radhiallahu 'anhu merampungkan tugasnya menumpas kaum murtad, ia berkeinginan mengarahkan pasukannya menuju Syam. Maka di buatlah, surat keputusan yang ditujukan untuk semua penduduk arab di Mekkah, Thaif, Yaman, dan seluruh rakyat arab di Nejed dan Hijaz yang isinya menyeru mereka melakukan mobilisasi umum guna melaksanakan jihad di jalan Allah dan mendapatkan rampasan perang kerajaan Romawi. Untuk itu, khalifah Abu Bakr radhiallahu 'anhu membentuk tiga unit pasukan yang dipimpin oleh tiga panglima. akan tetapi, Khalid bin Walid masih berada di Iraq, sementara memindahkan ribuan pasukan dari Iraq menuju Syam bukanlah hal yang mudah. Akhirnya Khalid pun berinisiatif meminta saran dari salah seorang penjelajah gurun terkemuka untuk mendapatkan jalan paling dekat menuju Syam.Setelah terjadi perbincangan, akhirnya Khalid setuju untuk menempuh sebuah rute perjalanan berat dari Iraq ke Syam.

Sesampainya di yarmuk, Khalid dan pasukannya bertemu dengan tentara kaum muslimin. Sementara itu, di sisi lain pihak Romawi berhasil membangun pasukan besar yang jumlahnya sekitar 200.000 tentara. Di Yarmuk, Khalid menerima mandat sebagai panglima besar yang membawahi seluruh satuan pasukan. Kemudian dia menerapkan suatu strategi pengerahan pasukan yang belum pernah ada dalam sejarah peperangan arab. Perang Yarmuk adalah saksi kegagahan kaum Muslimin dalam pengorbanan jiwa dan raga di jalan Allah Aza wa Jalla.

Pada perang tersebut, Khalid bertemu dengan seorang komandan pasukan Romawi yang bernama Jurjah (Gregorius Theodorus), sebelum kedua pasukan bertemu dalam kancah peperangan. Maka terjadilah dialog diantara keduanya.

Gregorius berkata, " Hai Khalid, jujurlah kepadaku dan janganlah sekali-kali mendustaiku. Benarkah Allah Azza wa Jalla telah menurunkan pedang dari Langit kepada nabimu, kemudian dia memberikan pedang itu kepadamu hingga engkau hunuskan pedang itu kearah musuh-musuhmu?"

"oh.... bukan seperti itu" jawab Khalid.

"Lantas, mengapa engkau mendapatkan Julukan "Pedang Allah yang Terhunus?" tanya Gregorius.

"Allah telah mengutus Rasul-Nya untuk kami. Maka, di antara kami ada yang beriman dan ada yang tidak. Dulunya, aku ini termasuk orang yang mendustakannya hungga Allah Azza wa Jalla mengarahkan dan menunjukkan hatiku kepada Islam melalui Rasul-Nya itu. Kamipun membai'at beliau lantas beliau mendo'akanku. Beliau berkata kepadaku, "Engkau adalah pedang diantara pedang-pedang Allah." Demikianlah julukan "pedang Allah" itu diberikan kepadaku, "Khalid radhiallahu 'anhu menceritakan kisah keislamannya.

Setelah dialog yang cukup panjang, cahaya islam mulai menerobos ke hati Gregorius. Akhirnya dia menyatakan keislamannya. Dia sempat melakukan shalat dua rakaat. Dalam hidupnya dia tidak pernah sholat melainkan dua rakaat itu. Semenjak itu, dia bergabung di barisan kaum Muslimin hingga terbunuh sebagai syahid di jalan Allah Azza wa Jalla.

Kaum muslimin terus berusaha menggetarkan tentara Romawi dan mengobrak abrik barisan mereka hingga akhirnya kekalahan demi kekalahan terus menghampiri pasukan Romawi.

Dalam pertempuran itu, Ikrimah bin Abu jahal dan Pamannya Al-Harits Al-Mahzumi serta Dhirar bin Azur gugur sebagai syuhada. Kemenangan berpihak kepada kaum Muslimin. Sementara, rantai yang diikatkan kepada pasukan Romawi tidak lagi mampu menahan mereka untuk lari dari medan peperangan.
Semoga kita dapat mengambil Faedah dari kisah ini.

Khalid bin Walid : Pembebasan Iraq

Semasa pemerintahan Daulah khilafah pada masa khulafau rasyidin isalam disebarkan dengan dakwah dan jihad. Pada masa khalifah Abu Bakr memimpin daulah Islam wilayah Islam bertambah luas meliputi Iraq dan Syam. Tentunya hal ini tidak lepas dari peran sang panglima perang kala itu, Khalid bin Walid. kali ini kami akan berbagi kisah bagaimana peran Khalid dalam membebaskan Iraq.

Khalifah Abu Bakr menyadari, bahwa Imperium Persia di Iraq dan Imperium Romawi di Syam merupakan dua buah kekuatan adidaya yang sangat membahayakan. Peran kedua negara ini sangat jelas pengaruhnya dalam menyulut perang Riddah yang sebenarnya bertujuan merongrongkekuatan Islam. Untuk mengatasi hal tersebut, diutuslah Khalid untuk mengajakmereka masuk kedalam Islam, atau kalau mereka menolaknya, masih ada dua opsi lain membayar Jizyah yang artinya mereka masuk kedalam Daulah Islam ataukah Perang.

Pertempuran yang pertama kali yang dijalani Khalid bin Walid dalam misinya kali ini adalah Pertempuran Hufair yang letaknya dekat dengan teluk Basrah yang masih dibawah kekuasaan Gubernur Hormuz. Pasukan Persia menggunakan rantai yang mengikat mereka agar tidak melarikan diri dari medan perang. Hormuz membuka peperangan ini dengan perang tanding melawang Khalid. Pada awalnya Hormuz berniat melakukan tipu muslihat terhadap Khalid dengan menyiapkan beberapa komandan terpilihnya untuk ikut menyerang Khalid. Akan tetapi, tidak berselang lama Khalid menyudahi perang tersebut dengan membunuh Hormuz. Setelah itu, kaum muslimin menyerbu pasukan Persia dengan kemenangan dipihak kaum Muslimin. Sementara itu, Khalid berhasil mengambil kopiah Hormuz yang menjadi simbol kebesaran Persia, lalu mengirimkannya kepada Baitul Mal. Hanya saja khalifah Abu Bakr menghadiahkannya kepada Khalid bin Walid atas jasa dan keberaniannya.

perang ini kemudian terkenal dengan sebutan Dzatu As-salaasil (Pertempuran Rantai), karena para tentara persia dirantai satu sama lain agar tidak melarikan diri dari pertempuran.

Setelah pertempuran Hufair ini, berturut-turut setelahnyaterjadi tiga peperangan lainnya. sebelumnya, ketika Khalid berhadapan dengan Hormuz di Hufair, Hormuz sempat mengirim pesan ke Istana Kisra untuk meminta bantuan. permintaan Hormuz tersebut disambut istana Kisra dengan mempersiapkan bala tentara yang lebih besar dengan dipimpin seorang panglima bernama Qarun.Akan, tetapi, ketika mereka mendapati pasukan Hormuz kalah dari tentara kaum muslimin, maka bala bantuan pasukan Persia pun mundur ke Tsiny, yang bermakna sungai. Meskipun demikian, Khalid terus mengejar mereka, memerangi, dan menawan mereka. Diantara para tawanan itu terdapat Abu Hasan al-Basri, seorang ulama besar yang saat itu masih memeluk Nasrani.

Setelah itu Khalid melanjutkan ekspedisinya ke Hirah. Setelah melakukan beberapa pertempuran kecil, dia dan pasukannya berhasil membebaskan seluruh Hirah pada bulan Rabiul awal tahun 12 H.

Dari Hirah, Khalid memimpin pasukannya menuju Daumatul Jandal untuk membantu Iyadh bin Ghanam yang saat itu sedang melakukan pengepungan terhadap benteng pertahanan. Bersama pasukan Iyadh, Khalid dan pasukannya melanjutkan pengepungan. Pemimpin pasukan Daumatul Jandal, Judi bin Rabiah bersama sekelompok pasukannya menyerang pasukan Iyadh, sementara kelompok pasukan murtad yang ke dua ditugaskan untuk memerangi Khalid beserta pasukannya. Akhirnya dua kelompk itu dapat dikalahkan dan Kaum Muslimin dapat menguasai bentengmereka.

peristiwa terakhir di Iraq yang dialami Khalid adalah Perang Firadh, yang terjadi disebelah utara Iraq.

Semoga kita dapat mengambil hikmah dari kisah para sahabat.

Khalid bin Walid : Penumpasan Musalimah al-Kadzdzab

Salah satu momok terbesar dari pemerintahan khalifah Abu Bakr radhiallahu 'anhu adalah Musailamah al-Kadzdzab. Dan Pada saat itu khalifah Abu Bakr mengutus Khalid bin Walid untuk menumpas Musailamah yang mengakibatkan sebahagian besar para penghapal Qur'an syahid. kami akan berbagi sedikit kishnya.

Perkara yang muncul tidak hanya pada Malik bin Nuwairah atau pada Thulaihah al-Asadi, tetapi ada yang jauh lebih besar dan kuat pengaruhnya yaitu Musailamah al-Kadzdzab. dia bukan hanya mengaku sebagai nabi, bahkan lebih dari itu dia mendapatkan dukungan terbesar dari kaumnya, Bani Hanifah yang terletak di Yamamah, sebuah daerah di Yaman. Selain itu, seorang wanita bernama sajah yang juga mengaku sebagai nabi ikut turu bergabung dengan Musailamah. Bahkan Sajah menikah dengan Musailamah. dengan perkawinan mereka, dua buah kekuatan mereka dapat di bersatukan. 
 
Khalid bin Walid datang dengan bala tentaranya. Dia memberikan semangat kepada para prajuritnya untuk berjihad dengan gagah beranidemi menumpas Musailamah dan komplotannya. Akhirnya, kaum muslimin berhasil memenangkan pertempuran yang sengit itu. korban dari pihak kaum muslim sebanyak 2.000 jiwa yang mati dan mendapatkan gelar sebagai syuhada dalam pertempuran tersebut. namun, sebgahagian dari mereka adalah para penghapal Qur'an. sedangkan korban tewas dari pihak lawan dalam hal ini adalah pihak Musailamah dan isterinya Sajah sebanyak 10.000 jiwa.
 
Dengan berakhirnya Penumpasan di daerah Yamamah tersebut, berakhir pula misi penumpasan kaum murtad di Jazirah Arab. Tak henti-hentinya kaum muslimin memanjatkan syukur kepada Allah azza wa jalla atas padamnya api fitnah itu untuk selamanya.
 
Semua itu tak lepas dari peran Abu Bakr sebagai khalifah saat itu dan tentunya berkat jasa panglima perang yang bijak, Saifullah al-Masluul (pedang Allah yang terhunus), Khalid bin Walid bin Mughirah radhiallahu 'anhu.

Semga kita dapat mengambil pelajaran dari kisah ini.

Monday, April 04, 2016

Khalid bin Walid : Perang Riddah

Siapa yang tak mengenal sahabat Khalid bin Walid. seorang panglima perang dimasa
Rasulullah dan masa khalifah Abu Bakr. kali ini kami akan berbagi kisah tentang
peran Khalid bin Walid dalam perang Riddah.

Setelah Nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wa salam wafat, tanah yang diinjak kaum
muslimin serasa sempit. Orang-orang yang suka berbuat onar dan orang munafik
kembali pada kekafiran dan kesesatan mereka secara nyata. Akibatnya, banyak
penduduk Arab yang dulunya memproklamirkan keislamannya kini murtad dan enggan
membayar zakat. pada saat yang demikian inilah, khalifah pertama, Abu Bakr
radhiallahu 'anhu, mengambil kebijakan untuk menumpas gerombolan mereka demi
memadamkan api fitnah kemurtadan. Tidak ketinggalan Khalid bin Walid radiallahu
'anhu, dia pun mengambil peranan penting dalam usaha tersebut sebagaimana yang
banyak dituliskan oleh tinta emas sejarah.

Khalid bin Walid bergerak bersama pasukannya untuk melakukan penumpasan terhadap
Thulaihah al-Asadi, salah seorang yang mengaku sebagai nabi. pergerakan Khalid bin
Walid radhiallahu 'anhu ini tentunya atas perintah khalifah saat itu Abu Bakr
radhiallahu 'anhu. Thulaihah telah mempersiapkan 40.000 pasukan untuk menghadapi
Khalid dan pasukannya. Pecahlah pertempuran sengit, dan kaum muslimin bertempur
dengan gagah berani. Akhirnya, kemenangan berpihak kepada pasukan Islam, sementara
kekalahan menghampiri kaum pemberontak yang munafik. hasilnya, pasukan murtadin
kocar-kacir dan mereka lari tunggang langgang. Akan tetapi, Khalid bin Walid
beserta pasukannya berhasil mengejar mereka hingga terlaksanalah apa yang menjadi
perintah Khalifah Abu Bakr radhiallahu 'anhu.

Selanjutnya, Khalid bersama pasukannya mengarahkan langkah kaki menuju tempat Malik
bin Nuwairah, seseorang yang memprovokasi penduduk agar tidak membayarkan zakat ke
Madinah. Setelah berhasil membunuh Malik bin Nuwairah, Khalid bin Walid memperistri
jandanya. Hal inilah yang sempat membuat Umar bin Khattab radhiallahu 'anhu sedikit
berang melihat ulah Khalid bin Walid, sehingga ia meminta kepada Abu Bakr
radhiallahu 'anhu menolaknya, "Demi Allah, aku sekali-kali tidak akan menyarungkan
pedang yang Allah subhanahu wata'ala telah menghunuskannya untuk memerangi kaum
musyrikin.

Semoga sepenggal kisah sahabat Khalid bin Walid ini bermanfaat bagi kita semua.

Sunday, April 03, 2016

Khalid bin Walid : Perang Mu'tah

Kemarin kita telah mengetahui kisah masuknya Khalid bin Walid kedalam Islam. Nah,
sekarang kami akan berbagi kisah Perang Mu’tah. Masih dengan tokoh utama Khalid bin
Walid.

Cahaya Islam telah menembus kedalam relung hati Khalid bin Walid yang terdalam.
Setelah itu , dia benar-benar menjadi “Pedang Allah Yang Terhunus”. Dalam peranf
Mu’tah , Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam menunjuk Zaid bin Haritsah sebagai
pemimpin pasukan. Kemudian, apabila ia gugur tampuk kepemimpinan dilanjutkan oleh
Ja’far bin Abu Thalib, dan apabila ia juga gugur dilajutkan oleh Abdullah bin
Rawahah. Pada peperangan mu’tah itu, ketiga sahabat radhiallahu ‘anhu tersebut
benar-benar gugur di medan perang. Akhirnya, kaum muslimin mencari siapa orang yang
akan memimpin pasukan. Merekapun sepakat untuk mengangkat Khalid bin Walid sebagai
komandan pasukan setelah ketiga sahabat tersebut syahid di medan perang. Shabat
yang telah ditunjuk oleh baginda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam untuk
menjadi panglima perang.

Pada perang tersebut, jumlah pasukan kaum muslimin lebih sedikit daripada pasukan
perang Romawi. Bahkan jumlah pasukan Romaswi berkali lipat lebih banyak dari
pasukan kaum Muslimin.

Bagi Khalid bin Walid radhiallahu ‘anhu, tidak ada pilihan lain kecuali menarik
mundur pasukan kaum muslimin untuk menghindari kerugian yang jauh lebih banyak.
Akhirnya kaum muslimin mundur dan kembali ke Madinah dengan jumlah korban yang
sedikit. Melihat keputusan Khalid bin Walid ini, para penduduk Madinah menyambutnya
dengan penuh celaan dan menjuliki pasukannya itu sebagai “orang-orang yang lari
dari peperangan”.

Namun, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam justru menghargai keputusan Khalid
bin Walid. Beliau pun bersabda, “Sesungguhnya mereka itu akan kembali (melakukan
penyerangan) dengan izin Allah, dan sekali-kali mereka bukanlah orang-orang yang
lari dari peperangan. Adapun Khalid, dia tetap menjadi pedang Allah”.

Seperti itulah kisah Khalid bin Walid dalam perang Mu'tah. Semoga kita dapat
mengambil pelajaran dalam setiap kisah dari para shabat radhiallahu 'anhum.

Friday, April 01, 2016

Khalid bin Walid : Perjalanan memeluk Islam

Walid bin Mughirah merupakan ayah dari salah satu panglima Islam Khalid bin walid. pada permulaan islam, ayah si "pedang Allah yang Terhunus" Walid bin Mughirah sangatlah membenci Islam. Bahkan, dia dikenal sebagai seorang yang paling keras memusuhi dakwah islam. dia adalah orang yang paling kuat tekanannya kepada para kaum muslimin. Memang, kala itu Walid merupakan seorang pembesar dari kaum musyrik. Akan tetapi, tatkala walid meninggal, muncullah Khalid  bin Walid menggantikan posisi ayahnya. Melihat betapa kuat dan mahirnya khalid bin walid dalam berperang dan cerdasnya dalam mengatur strategi perang, maka wajar orang-orang Quraisy menginginkan agar khalid tetap berada di pihak mereka. Dengan bergabungnya Hamzah bin Abdul Muthalib dan Umar bin Khattab ke dalam Islam membuat para petinggi Quraisy khawatir.

Peperangan pertama kaum muslimin dengan kaum musyrikin adalah di medan perang Badr. Pada saat perang Badr saudara Khalid bin Walid  yaitu walid bin walid berhasil di tawan oleh kaum muslimin. Ketika Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam memberi pilihan kepada Walid bin Walid apakah ia ingin memeluk Islam atau bebas dengan tebusan yang dibayar oleh keluarganya, Khalid pun segera bergegas untuk menebus dan membawa pulang saudaranya.

Namun, yang sangat mengejutkan Khalid, setibanya di Mekkah justru Walid saudara yang ia sayangi mengaku secara terang-terangan tentang keislmannya di depan para pemuka kafir Quraisy. Sontak Khalid bertanya kepada Walid tentang siakpnya tersebut, terutama tentang masuknya Walid kedalam Islam serta mengapa Walid tidak mengumumkan ke Islamannya sejak di Madinah? Maka Walid menjawab “ Sungguh aku melihat sendiri perlakuan baik kaum muslimin terhadapku yang aku sendiri belum pernah mendapatkan perlakuan seperti itu dari kerabatku yang paling dekat sekalipun. Hanya saja aku khawatir jika aku mengumumkan keislamanku di Madinah, jangan-jangan kaum Muslim akan berpikiran bahwa aku masuk kedalam Islam karena takut ditawan”.

Masuknya Islam Walid bin Walid membuat Khalid bin Walid geram dan marah sejadi-jadinya.  Hal ini membuat Khalid semakin menentang islam, rasa bencinya terhadap islam semakin besar. Manakala perang Uhud Khalid mendapatkan kepercayaan dari para pemimpin Quraisy untuk memimpin pasukan melawan kaum Muslimin. Khalid memimpin pasukan berkuda kaum musyrikin. Ia dan beberapa pasukan yang dipimpinnya memutar balik arah kudanya untuk melancarkan serangan kepada pasukan panah kaum muslimin yang melanggar perintah Rasulullah Shalallahu ‘Alihi wa salam.

Pada tahun Perjanjian Hudaibiyyah saat Rasulullah shalallahu ‘aliahi wa salam dan kaum muslimin mengunjungi masjidil haram, kembali Khalid dengan bala tentaranya bermaksud menghalau Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam beserta kaum muslimin dari masjidil haram. Akan tetapi Khalid menemukan mereka sedang melakuakn sholat berjamaah bersama Nabi shalallhu ‘alaihi wa salam sebagai imam mereka. Pemandangan tersebut yang kemudian membuat hati  Khalid bergetar serta menimbulkan kesan yang sangat dalam pada jiwanya.

Tak lama kemudian setelah itu, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam mengutus  Walid bin Walid, Saudara Khalid untuk mengajaknya masuk islam serta menyampaiakn salam beliau dan memberitahu Khalid bahwa selama ini Rasulullah selalu menanyakan dirinya. Akhirnya Khalid pun menghadap Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam dan memproklamirkan ke
 islamannya. Hal ini terjadi beberapa hari sebelum Fathu Makkah ( Pembebasan Mekkah).
Setelah memeluk islam maka Khalid pun berkata kepada Rasulullah “ Yaa Rasulullah, aku telah memposisikan diriku memerangi islam, maka berdo’alah kepada Allah agar dia mengampuniku.”
Untuk menenangkan hati Khalid, maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam menjawab “Islam  akan menghapus segala dosa yang telah berlalu, wahai Khalid!”

Namun Khalid tak hentinya memohonagar dimintakan ampunan, maka Rasulullah pun berdoa “ Ya Allah, ampunilah Khalid atas segala perbuatannya yang menghalangi manusia dari jalan-Mu”

Sejak saat itu Khalid berubah, dari komandan pasukan musyrikin menjadi komandan pasukan Muslimin dan “Pedang Allah yang terhunus” yang siap membela  agama-Nya. Khalid selalu menyertai Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam dalam setiap peperangannya dan menjadi pembela yang siap berjuang kapan saja di barisan kaum muslimin.

Seperti itulah kisah Keislaman “Syaifullah” Khalid bin Walid.

Popular Posts

Powered by Blogger.

Facebook