Showing posts with label Kisah. Show all posts
Showing posts with label Kisah. Show all posts

Friday, May 06, 2016

Mengenal Abu Bakr (Bagian ke 2)

Abu Bakr datang mendekati Rasulullah lalu membuka penutup wajah beliau kemudian menciumnya dan berkata: Demi bapak dan ibuku sebagai tebusan bagimu wahai Rasulullah,sungguh engkau hidup dan mati dengan mulia. Setelahnya, dia keluar menghadapi masyarakat dan menaiki mimbar lalu berkata: Ketahuilah bahwa barangsiapa yang menyembah Muhamad maka sungguh Muhamad telah mati. Dan barangsiapa yang menyembah Allah sesungghnya Allah Maha Hidup dan tidak akan pernah mati, sembari membaca firman Allah Ta’ala:“Sesungguhnya kamu akan mati dan Sesungguhnya mereka akan mati (pula). QS. Al-Zumar: 30.

Di antara bukti sikap kepahlawanan dan keberaniannya adalah pada saat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam meninggal dunia dan mu’sibah tersebut menjadi besar. Aisyah radhiallahu anha bercerita: Suku-suku Arab banyak yang murtad, kaum Yahudi dan Nasrani berani menampakkan taring kejahatannya, kemunafikan bermunculan, kaum muslimin bagai kambing-kambing yang kehujanan pada malam yang penuh dengan kedinginan karena meninggalnya Nabi mereka lalu mengumpulkan mereka kembali dengan Abu Bakr.

Pada saat sebagaian suku-suku Arab menentang mengeluarkan zakat setelah meninggalnya Rasulullah shallallahu alihi wa sallam, maka beliau bertekad untuk memerangi mereka dan memberikan pelajaran kepada mereka, dalam pidatonya yang penuh dengan keberanian dia berkata: Demi Allah seandainya mereka tidak menunaikan sejengkal tali onta sebagai zakat yang telah mereka tunaikan pada masa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam niscaya aku pasti memerangi mereka”.

Semoga Allah mencurahkan rahmatNya kepada Abu Bakr dan memberikan kredhaan kepadanya, dia adalah contoh tauladan bagi orang beriman dalam ketulusan sejati….beriman…cukuplah menjadi kebanggan bagi bagi Abu Bakr bahwa Allah Ta’ala menyebutnya di dalamkitabNya yang suci di dalam firman Allah Ta’ala pada surat Al-Taubah: "Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) Maka Sesungguhnya Allah Telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia Berkata kepada temannya: "Janganlah kamu berduka cita, Sesungguhnya Allah beserta kita." Maka Allah menurunkan keterangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Al-Quran menjadikan orang-orang kafir Itulah yang rendah. dan kalimat Allah Itulah yang Tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana". ( QS. Al-Taubah: 40 ).

Hal itu terjadi pada saat peristiwa hijrah, pada saat orang-orang Quraisy memboikot pergerakan da’wah Rasulullah shallallahu alihi wa sallam dan para kaum muslimin. Maka Allah mewahyukan kepada Rasulullah untuk berhijrah ke Madinah. Maka beliaupun keluar sendirian ditemani shahabat beliau, Abu Bakr Al Siddiq. Sementara itu, kaum Quraisy berlomba-lomba mengejar mereka berdua dan Abu Bakr sangat tidak khawatir dengan keselamatan dirinya namun dia hanya khawatir dengan keselamatan shahabat dan kekasihanya shallallahu alaihi wa sallam. Dia berkata: Seandainya salah seorang di antara mereka menoleh pada kakinya niscaya mereka pasti melihat kita. Akan tetapi Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam merasakan ketenangan yang telah dihunjamkan oleh Allah ke dalam hatinya, menenangkan segala ketakutan beliau dan berkata kepada Abu Bakar; Wahai, Abu Bakar, apakah yang engkau risaukan dengan dua orang yang sedang dijaga oleh Allah sebagai pihak ketiga dari dua orang tersebut”.

Itulah bentuk cinta sejati kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sang pembawa petunjuk. Bukti yang paling nyata bagi cinta sejati tersebut adalah apa yang telah diperlihatkan oleh Abu Bakr sejak berhijrah meunju Madinah bersama beliau
.
Hatinya risau jangan-jangan kaum musyrikin menemukan jejak Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, terkadang dia berjalan di belakang Rasulullah dan terkadang berjalan di depan beliau guna menjaganya. Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bertanya tentang mengapa dia melakukan hal tersebut: Wahai Rasulullah, jika aku mengingat pengejaran maka aku berada di bagian belakang karena khawatir jangan-jangan mereka mengejar dirimu, dan jika aku mengingat tentang pengintaian maka aku berada di hadapanmu.

Abu Bakr adalah tauladan yang baik dalam kesucian dan kemurnian hati. Marilah kita membaca peristiwa di bawah ini: suatu ketika Abu Bakr al shiddiq datang menemui Rasulullah shallallahu alahi wa sallam dan berkata: Wahai Rasulullah telah terjadi sesuatu antara diriku dengan Umar bin Al Khattab lalu aku segera menemuinya kemudian aku menyesali hal tersebut. Aku memohon kepadanya agar dia memaafkan aku namun dia enggan memaafkan diriku lalu aku mendatangi dirimu. Maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Semoga Allah mengampunimu wahai Abu Bakr”.

Kemudian Umar bin Al Khattab menyesali sikapnya, maka diapun mendatangi rumah Abu Bakr dan bertanya tentang keberadaannya namun dia sedang tidak berada di rumah. Maka diapun datang menemui Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan wajah beliau kelihatan mengerut karena marah sehingga Abu Bakr merasa khawatir jangan-jangan Rasulullah mengucapakan sesuatu yang menyakiti Umar, maka diapun segera berlutut pada kedua kaki Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan berkata kepadanya: Ya Rasulullah, aku yang telah menzaliminya. Maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: "Sesungguhnya Allah telah mengutus diriku kepada kalian dan kalian berkata: Kamu berbohong, sementara Abu Bakr berkata: Engkau benar, dia telah menolongku dengan jiwa dan hartanya, tidakkah kalian memaafkan shahabatku ini?".

Abu Bakr sebagai suri tauladan yang baik sebagai mu’min yang sejati. Dia mendatangi para janda dan orang-orang lemah guna membantu mereka dalam memenuhi kebutuhan mereka, membantu memerah susu kamibing-susu kambing mereka, dan pada saat dilantik menjadi khalifah seorang wanita di akmpung tersebut berkata: Sekarang dia tidak lagi bisa memerah susu-susu kambing kita, sumber penghasilan kita. Abu Bakar mendengar keluhan tersebut lalu dia berkata: Demi Allah tidak demikian, aku akan tetap memerah susu-susu kambing untuk kalian. Semoga bantuan yang tlah aku berikan sebelemnya tidak berubah oleh kekuasaan yang aku emban”.

Baca juga bagian pertama

Mengenal Abu Bakr (bagian 1)

Abu Bakr termasuk pemuka dan tokoh bangsa Quraisy dan termasuk salah seorang yang kaya dan berakal. Dan pada saat Nabi shallallahu alaihi wa sallam diutus maka dia segera beriman dan membenarkannya. Dan Abu Bakr adalah seorang sahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam sebelum diangkat menjadi Nabi dan pada saat turunnya wahyu. Pada saat beliau diangkat menajdi Nabi maka dialah orang yang pertama membenarkan dan beriman kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Dan Abu Bakr adalah orang yang paling dicintai oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Dalam sebuah khutbahnya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda tentang Abu Bakr: Sesungguhnya orang yang paling aku percayai dalam persahabatan dengan diriku dan paling banyak berkorban dengan harta adalah Abu Bakr. Seandainya aku boleh mengangkat seorang kekasih selain Tuhanku maka aku akan menjadikan Abu Bakr sebagai kekasih. Akan tetapi keterikatanku adalah persaudaraan karena keimanan dan kecintaan…”.

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Setiap orang yang aku seru kepada Islam memunculkan penolakan pada dirinya kecuali Abu Bakr.

Beliau mengalami banayak penyiksaan dan intimidasi dari para tokoh-tokoh Quraisy setelah diketahui masuk Islam. Suatu ketika, Utbah bin Rabi’ah mendekati Abu Bakr lalu memukuli wajahnya dengan dua sandal yang di jahit sampai orang-orang tidak bisa membedakan antara hidung dan wajahnya, lalu kaumnya datang untuk menjaganya dan menghalangi kaum musyirikin dari serangan mereka, baru kemudian membawanya pulang dengan cara memasukkannya pada sebuah sarung, mereka tidak ragu lagi dengan kematian Abu Bakr. Maka kabilahnya berkumpul dan mereka bersepakat: Demi Allah, jika Abu Bakr mati maka kita akan membunuh Utbah. Merekapun kembali menemui Abu Bakr sahabat Rasulullah semoga dia tersdar dan bisa berbicara, dan Abu Bakr siuman di akhir siang dan bertanya: Apakah yang dikerjakan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam?. Allahu Akabr. Itulah cinta sejati, iman yang kuat, dan beliau selalu mengualang-ulangi kalimat ini agar dia tenang dengan keadaan yang dialami oleh sahabat dan kekasihnya. Ibunya keluar menemuinya untuk memberitahukan tentang berita Nabi shallallahu alaihi wa sallam: Nabi shallallahu alaihi wa sallam dalam keadaan selamat. “Di manakah dia?. Tanyanya kembali. “Di rumah Al Arqam”. Jawabnya. Dia berkata: Demi Allah aku tidak akan makan dan minum kecuali setelah melihat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Pada saat masyarakat sudah melupakan peristiwa tersebut dan memasuki rumah mereka masing-masing keluarganya membawanya menemui Rasulullah dan bertemu dengannya. Lalu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memeluk dan menciumnya dan kaum mislimnpun ikut memeluk dan menciumnya. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sangat prihatin terhadap dirinya. Dalam rintihan rasa sakit dan luka Abu Bakr bakr: Bapak dan ibuku sebagai tebusan bagimu wahai Rasulullah, tidak ada yang aku rasakan kecuali rasa sakit yang telah ditimpakan oleh si fasiq (Utba bin Rabi’ah) pada wajahku, dan ini adalah ibuku yang sangat berbudi baik dengan kedua orang tuanya, maka serulah dia kepada Islam semoga Allah menyalamatkannya dari api neraka. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menyerunya kepada Islam dan diapun masuk Islam.

Aisyah, putrinya radhiallahu anha berkata: Abu Bakr mengharamkan khamar untuk dirinya pada masa jahiliyah maka dia tidak pernah meminumnya baik pada masa jahilliyah atau pada masa Islam datang, hal itu karena suatu peristiwa di mana dia melewati seorang lelaki yang sedang mabuk, sedang meletakkan tangannya pada kotoran lalu mengambilnya. Dia pernah berkata: Aku sama sekali tidak pernah bersujud pada patung. Pada suatu hari, setelah saya menginjak usia dewasa, Abu Quhafah memegang tanganku lalu menggiringku menuju sebuah tempat yang dipenuhi patung-patung. Dia berkata kepadaku: Ini adalah para tuhan-tuhanmu.....lalu dia pergi meninggalkan saya. Akupun mendekati sebuah patung dan berkata kepadanya: Aku lapar, berilah aku makan”, namun patung tersebut terdiam dan tidak menjawab perkataanku. “Aku tidak memiliki pakian, berilah aku pakaian”. Pintanya kembali. Namun lagi-lagi patung itu tidak memberikan jawaban apapun kepadaku. Lalu aku melemparnya dengan sebuah batu besar sehingga hancur lebur”.
Imam Muslim menyebutkan sebuah riwayat dari Abi Hurairah radhiallahu anhu bahwa dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Siapakah yang pagi hari ini berpuasa?. Abu Bakar berkata: “Saya”. Rasulullah bertanya kembali: Siapakah dia antara kalian yang hari berpartisifasi menyelenggarakan janazah?”. “Saya”. Jawab Abu Bakar. “Siapakah yang pada hari ini telah memberikan makan kepada orang miskin?”. Tanya Rasulullah. “Saya”. Jawab Abu Bakr. Rasulullah bertanya kemabli: Siapakah di antara kalian yang telah menjenguk orang yang sakit pada hari ini”. “Saya”. Jawab Abu Bakr menambahkan. Lalu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Tidaklah terkumpul kebaikan tersebut pada seseorang kecuali dia pasti masuk surga”.

Umar radhiallahu anhu berkata: “Tidaklah aku berkeinginan mendahului Abu Bakr dalam amal kebajikan kecuali dia telah mendahuluiku dalam kebajikan tersebut”. Ali bin Abi Thalib berakta: Abu Bakr adalah orang yang selalu terkemuka dalam berbuat kebajikan. Demi jiwaku yang berada di tanganNya tidaklah kami berlomba-lomba saling mendahului dalam kebaikan kecuali Abu Bakr mendahului kami”.

Abu Bakr adalah orang yang selalu khusyu’ dan tunduk kepada Allah, banyak menangis karena takut kepada Allah, dialah orang yang mengimami para shahabat pada saat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tidak ada atau sakit. Aisyah radhiallahu anha berkata kepada para shahabat: Sesungguhnya Abu Bakr adalah orang yang hatinya lembut pada saat mengiamami para shahabat suaranya hampir tidak terdengar karena menangis’.

Bersamaan dengan kekhusyu’an dan ketundukan kepada Allah, beliau juga termasuk sosok pemberani dan terdepan dalam peperangan, pribadi yang mampu menorehkan sejarah kepahlawanan. Pada saat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam meninggal dunia seluruh masyarakat terkejut sampai Umar bi Al –Khattab mengingkari kematian beliau shallallahu alaihi wa sallam.

Berlanjut ke bagian ke 2

Wednesday, April 27, 2016

Mutiara Nasehat Abu Bakr Ash-Shiddiq

 Dia adalah khalifah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: Abdullah bin Abi Quhafah –namanya adalah Utsman- bin Amir al-Qurasyi, at-Taimy, nasabnya bertemu dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada kakeknya buyutnya yang bernama Murrah.

Dilahirkan di Mekkah dan tumbuh sebagai salah seorang pemuka Quraisy, seorang saudagar kaya, ahli tentang nasab kabilah-kabilah, berita dan politik mereka, dan bangsa Arab memberinya gelar ‘Alim Quraisy’. Dia mengharamkan terhadap dirinya minuman keras di masa jahiliyah, maka dia tidak pernah meminumnya. Kemudian, di masa kenabian dan sesudahnya, dia menjadisaksi berbagai peristiwa penting, terlibat semua peperangan (bersama Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam) sabar menahan beban penderitaan, mengorbankan harta, dalam kitab-kitab hadits ia meriwayatkan 142 hadits. Dia yang pertama-tama mengumpulkan al-Qur`an. Wafat pada sore hari di hariSelasa tanggal 22 Jumadil Akhir tahun 13 H. Masa kekhalifahannya berlangsung selama dua tahun seratus hari.

Siapa saja yang merenungkan nasehat-nasehat ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, ia akan mendapatkan mutiara nasehatnya yang bervariasi sesuai tuntutan kondisi, sebagaimana petunjuk Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam memberi nasehat.

Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu menyampaikan khuthbah kepada kaum muslimin, maka ia memuji Allah Shubhanahuwata’alla dan menyanjung-Nya, kemudian ia berkata:"Sesungguhnya negeri Syam akan ditaklukkan untuk kalian. Kalian akan mendatangi bumi dataran tinggi, di tempat kalian diberi nikmat padanya berupa roti dan minyak zaitun, akan dibangun masjid masjid untuk kalian. Hati-hatilah, jangan sampai Allah Shubhanahu wa ta’alla mengetahui bahwa kalian mendatanginya hanya untuk melalaikan diri (dari ibadah kepada Allah ta’ala), sesungguhnya ia dibangun untuk berdzikir kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla.”
Ash-shiddiq radhiyallahu ‘anhu berkata:
“Apabila suatu kaum melakukan perbuatan maksiat di hadapan orang orang yang lebih mulia dari mereka, namun mereka tidak mengingkarinya, niscaya Allah Shubhanahu wa ta’alla akan menurunkan bencana-Nya kepada mereka, kemudian –Dia tidak mencabutnya dari mereka.’
Dan ia berkata –setelah memuji Allah Shubhanahu wa ta’alla dan menyanjungnya-“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kalian semua membaca ayat ini dan meletakkannya bukan pada tempatnya”
Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu kembali semuanya, maka-Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan
. (QS. al-Maidah:105)

Dan sesungguhnya kami mendengar Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sesungguhnya apabila manusia melihat orang yang zhalim dan tidak menghalanginya berbuat zhalim, hampir-hampir Allah Shubhanahu wa ta’alla menurunkan siksa-Nya secara merata.’Apa yang disebutkan oleh ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu dalam dua nasehat di atas, didukung oleh nash-nash dari al-Qur`an dan sunnah. Firman Allah Shubhanahu wa ta’alla:
"Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan 'Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. (QS. 5:78).
Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu. (QS. al-Maidah:79)
Dalam sunan at-Tirmidzi, ia berkata: hadits hasan- dari Hudzaifah bin Yaman radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:
“Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kamu menyuruh yang ma’ruf dan melarang yang mungkar, atau segera tiba waktunya Allah Shubhanahu wa ta’alla mengirimkan siksa-Nya kepada kalian, kemudian kalian berdo’a kepada-Nya, maka do’a kamu tidak dikabulkan.’ 
Bahkan, di antara perumpamaan yang paling mendalam yang menjelaskan pentingnya ihtisab (amar ma’ruf nahi munkar) dan bahaya meninggalkannya atau lalai darinya adalah sabda Nabi MuhammadShallallahu ‘alaihi wa sallam dari hadits Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu:
“Perumpamaan orang orang yang melaksanakan hukum hukum Allah Shubhanahu wa ta’alla dan yang terjerumus padanya, adalah seperti perumpamaan suatu kaum yang melakukan undian di dalam kapal, maka sebagian mendapat bagian di atas dan yang lain di bawah. Maka orang orang yang berada di bawah apabila mengambil air, mereka melewati yang di atas. Mereka berkata: “Jikalau kita melobangi satu lobang di bagian kita dan kita tidak mengganggu mereka yang berada di atas kita.’ Maka jika mereka (yang di atas) membiarkan mereka (yang di bawah) melakukan yang mereka kehendaki, niscaya mereka binasa semuanya, dan jika mereka menghalangi mereka, niscaya mereka semuanya selamat.’ HR. Al-Bukhari 2493
Sesungguhnya itu sesuatu yang pasti, demi Allah, sesungguhnya kita membaca nasehat nabi ini, kemudian nasehat ash-Shiddiq, hendaknya kita segera melakukan syi’ar ihtisab menurut kadar kemampuan kita masing-masing, sehingga kita tidak binasa dan perahu masyarakat kita tidak tenggelam.
Dari Zaid bin Aslam, dari bapaknya, ia berkata: ‘Aku melihat Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu memegang lisannya seraya berkata: ‘Ini membawaku ke berbagai tempat.’Allah Maha Besar!! Ini adalah ucapan ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu dari lisannya, maka apakah yang kita katakan? Kamu bisa membayangkan, wahai para pembaca, apakah beberapa kalimat yang dikhawatirkan oleh Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu? Apakah penyebab ia mengungkapkan kata-kata ini? Sesungguhnya ia adalah rasa takut kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla, yang membuat dia berpikir dalam kata-kata biasa yang dikatakannya dan tidak diperlukan, atau mengucapkan kata-kata bukan pada tempatnya namun hanya berdasarkan ijtihad dan ta’wil!

Demi Allah, kita lebih pantas dengan kalimat ini dari pada ash-Shiddiq! Kita yang lebih banyak berbicara dari pada bekerja (beramal) dan sedikit sekali selamat dari ghibah (menggunjing). Jikakita selamat darinya kita tidak selamat dari mendengarnya dan berdiam diri darinya!

Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu berkata: ‘Sampai kabar kepada kami bahwa apabila hari kiamat, ada yang berseru: Di manakah orang-orang yang pemaaf, maka Allah Shubhanahu wa ta’alla memberi maaf kepadanya sesuai pemberian maafnya kepada manusia.’

Sesungguhnya di antara mutiara nasehat ash-Shiddiq dalam bidang amal ibadah dalam kehidupannya adalah memberi maaf. Sesungguhnya saat ia bersumpah akan menghentikan tunjangan nafkah kepada putri bibinya Misthah bin Utsatsah radhiyallahu ‘anhu setelah ia ikut terlibat dalam peristiwa hadits ifk (berita dusta terhadap Aisyah radhiyallahu ‘anhu). Kemudian turun firman Allah ta’ala
"Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka mema'afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin Allah mengampunimu ? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS. an-Nur:22)

Ia tidak mengungkapkan apa-apa selain: ‘Tentu, demi Allah.” Kemudian ia kembali memberi tunjangan nafkah kepada Misthah.Ketika engkau merenungkan sikap ini, sesungguhnya engkau akan merasakan sikap yang agung terhadap ucapannya ini.Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu berkata: ‘Wahai sekalian manusia, perhatikanlah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada ahli baitnya.’
Dalam Shahihaian, darinya radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Demi Allah, sesungguhnya kerabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih kucintai dari pada kerabatku sendiri.’ Ini adalah ungkapannya dalam memberi nasehat kepada manusia, mengingatkan mereka di atas minbar dan dalam berbagai kesempatan untuk menjelaskan kedudukan ahli bait Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam jiwanya, dan ia bersumpah –sedangkan dia seorang yang sangat jujur- bahwa ia menyambung silaturrahim kepada kerabat Nabi MuhammadShallallahu ‘alaihi wa sallam lebih dicintainya dari pada kerabatnya sendiri, maka di manakah orang yang mencelanya dan menuduhnya memusuhi Ahli Bait yang suci lagi mulia?

Dan dia berkata: ‘Manusia yang paling taat kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla adalah yang paling benci terhadap maksiat.’ Dan ini adalah makna yang sangat indah, sesungguhnya banyak orang yang melakukan sejumlah ketaatan, bahkan ia banyak sekali ibadah, akan ia lemah dalam melakukan perlawanan saat terjadi sebab-sebab maksiat. Maka siapa yang seperti itu, maka ketaatannya kurang, kewaliannya dalam hal itu tercemar.

Ini adalah makna ucapan Sahal bin Abdullah at-Tustari: ‘Amal-amal kebaikan dilakukan oleh orang yang shalih dan fasik, dan tidak menjauhi perbuatan maksiat kecuali orang yang shiddiq.’ Dan dia berkata dalam khuthbahnya: “Ketahuilah, sesungguhnya orang yang paling cerdas adalah taqwa dan sesungguhnya orang yang paling bodoh adalah fasik, sesungguhnya orang yang paling kuat darimu di sisiku adalah orang lemah sehingga aku mengambil untuknya dengan haknya, dan sesungguhnya orang yang palinglemah darimu di sisiku adalah orang kuat sehingga aku mengambil yang hak darinya. Wahai sekalian manusia, sesungguhnya aku hanya mengikuti dan bukan melakukan sesuatu yang baru (bid’ah), jika aku baik maka bantulah aku dan jika aku menyimpang maka luruskanlah.’Dan ia berkata: ‘Kami mendapatkan kemuliaan dalam taqwa, kaya dalam keyakinan, dan kemuliaan dalam sifat tawadhu’ (rendah hati).’ 
Dan kita tutup dengan satu do’a dari do’a do’anya, di mana ia berkata: ‘Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepadamu yang ia baik untuk kami pada akhirnya merupakan kebaikan, ya Allah, jadikanlah kebaikan terakhir yang engkau berikan kepada kami adalah keridhaan Engkau dan derajat yang tinggi dari surga yang penuh kenikmatan.

Wednesday, April 20, 2016

Abu Ubaidah bin Jarrah : Masuk Islam

Kali ini kami akan berbagi kisah seorang panglima dimasa kekhalifaan Umar bin Khattab radhiallahu 'anhu. beliau adalah Abu Ubaidah bin Jarrah radhiallahu 'anhu. tentang kisah keislaman beliau.

Nama Aslinya adalah Amir bin Abdullah bin Jarrah bin Hilal. Akan tetapi, dia lebih dikenal dengan julukan dan nasab pada kakeknya. Maka, orang-orang pun memanggilnya Abu Ubaidah bin Jarrah.

Abu Ubaidah termasuk salah satu dari sepuluh orang yang dijamin masuk surga. Dia termasuk dalam golongan orang-orang yang mula-mula masuk Islam. Dia ikut perang Badar dan Perang Uhud.

Abu Ubaidah bin Jarrah radhiallahu 'anhu adalah seorang pahlawan dan pemimpin yang gagah berani dalam banyak pertempuran. Kisah keislamannya di mulai dari Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiallahu 'Anhu, sebagai kelompok dewasa yang pertama kali membenarkan Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam dan memeluk islam. Bukan hanya itu, bahkan Abu Bakr radhiallahu 'anhu juga menjadi dai pertama dari agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad shalallhu 'alaihi wa salam.

Suatu hari, Abu bakr radhiallahu 'anhu duduk dan berbincang-bincang bersama sahabatnya, Abu Ubadah bin Jarrah. Memang, sejak masuk Islam, Abu Bakr selalu membicarakan tentang ISlam dalam setiap kesempatan. Dari perbincangan itulah, Allah Azza wa jalla membuka pintu hati Abu Ubaidah bin Jarrah untuk memeluk slam dan mengimani apa yang diyakini oleh Abu bakr radhiallahu 'anhu. Maka, keduanya berangkat menemui Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam untuk menyatakan keislamannya. setibanya di hadapan Rasulullah Abu Ubaidah mengucapkan Bahwa tiada ilah yang berhak di sembah kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah.

itulah kisah singkat bagaimana Abu Ubaidah bin jarrah masuk kedalam Islam ini. Semoga kita bisa mendapatkan pelajaran dari kisah ini.

Khalid bin Walid : Pesan terakhir

Untuk kali ini kami akan berbagi kisah tentang akhir hayat sang Syaifullah al-Maslul, mungkin lebih tepatnya pesan beliau sebelum wafat kepada para pemuda dan para kaum Muslimin yang terkena dan terjangkit penyakit al-Wahn.

Di saat ajalnya menjelang, Khalid bin Walid radhiallahu 'anhu sempat berkata. "Aku telah berperang sebanyak 100 kali atau bahkan lebih, untuk mencari kesyahidan. Tidak ada di anggota tubuhku ini melainkan mendapat mendapat bekas luka tusuk, sayatan, atau bekas luka terkena anak panah. Akan tetapi, inilah aku sekarang, aku akan menemui ajalku di tempat tidur seperti unta tua yang akan mati. Maka janganlah tidur wahai mata para pengecut."

pesan ini ditujukan untk seluruh kaum muslimin agar selalu siap siaga hingga kalimat Laa ilaha illa Allah Muhammad Rasulullah tegak di Bumi Allah, dan hingga saatnya kita menjemput kembali kemenangan yang di Jnajikan Allah melalui Lisan Allah untuk menaklukkan kota Roma.

Khalid bin Walid radhiallhu 'anhu wafat pada masa kehilafaan Umar bin Khattab radhiallahu 'anhu. Khalifah Umar sangat berduka atas wafatnya khalid. Semoga Allah merahmati Khalid. Jarang sekali ada panglima perang d dunia ini yang mendapatkan kemenangan dalam setiap pertempuran sebagaimana Khalid bin Walid radiallahu 'anhu "Si Pedang Allah Yang Terhunus."

Semoga kita dapat mengambil hikmah dari kisah ini.

Khalid bin Walid : Pemberhentian sebagai Komandan

Pada saat khalifah Abu Bakr wafat dan digantikan dengan Umar bin Khattab maka Khalid bin Walid digantikan sebagai panglima perang. Kali ini kami akan berbagi kisah pemberhentian Khalid sebagai Komandan.

Seiring berjalannya waktu, sampailah surat khalifah Umar bin Khattab radhiallahu 'anhu kepada penduduk Syam yang mengabarkan wafatnya Abu Bakr radhiallahu 'anhu. Berikut petikan isi surat tersebut:

"Bismillahirrahmanirrahiim. Dari hamba Allah, Umar, Amirul mukminin, kepada orang-orang yang berada di Syam.

Semoga kesejahteraan terlimpah kepadamu. Sungguh telah terjadi pada umat ini bahwa Abu Bakr, Khalifah Rasulullah, telah wafat, Innalillahi wa Inna Ilaihi Raji'un. semoga rahmat dan ridho Allah tercurahkan kepadanya, yang telah menegakkan kebenaran, berkata jujur, memerintah dengan jujur,  memutuskan dengan adil, baik, lembut, penyanyang, pemurah, menjaga diri, dan bijaksana. dialah yang selalu berusaha mendapat rahmat Allah, beramal dengan dasar taat kepada-Nya, dan semoga kekal dalam jannah-Nya dan sungguh Dia-lah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Jika telah sampai suratku ini kepadamu, dan kalian telah membacanya maka ketahuilah bahwa panglima kalian sekarang adalah Ubaidah bin Jarah dan dialah yang menjadi pimpinan tertinggi kalian."

Khalifah Umar juga menulis surat kepada Abu Ubaidah bin jarah yang diselipkan diantara lipatan surat sebelumnya. Isi surat tersebut adalah:

"Bismillahirrahmanirrahiim. Dari hamba Allah, Umar, Amirul Mukmiin, kepada Abu Ubaidah bin Jarrah.

Semoga kesejahteraan terlimpahkan kepadamu.

Amma ba'du:

Segala Puji bagi Allah, sekarang engkau beradadi tengah-tengah kaum Muslimin dengan jumlah yang mencukupi untuk berperang melawan penduduk Damasskus. Jika suratku ini sampai di tanganmu, amka bacakanlah kepada orang sebelummu (dalam hal ini yang di maksud adalah Khalid bin Walid) dan kabarkanlah kepadanya bahwa engkaulah yang memerintah kaum Muslimin di Syam."

Namun, ketika surat itu sampai di tangan Abu Ubidah radhiallahu 'anhu, beliau sungkan mengabarkan hal tersebut kepada Khalid bin Walid dan tetap shlat bermakmum di belakang Khalid bin Walid tanpa menunjukkan sesuatu apa pun. Lama kelamaan, Khalid bin Walid pun mendengar bahwa dirinya dipecat karena telah banyak orang yang memanggil Abu Ubaidah dengan sebutan "Amir". Dengan begitu, Khalid tahu dan yakin bahwa dirinya telah dipecat.Akan tetapi, dengan tenang dia berkata, Semoga Allah merahmati Abu Bakr. Andai dia masih hidup niscaya dia takkan memecatku selama-lamanya. Wahai Abu Ubaidah, semoga ALlah merahmatimu, mengapa engkau tidak memberitahu pemecatanku dan tentang kepemimpinanmu atas diriku? Bahkan engkau justru sholat di belakangku padahal engkau adalah pemimpinku."

Pemberhentian Khalid oleh khaifah Umar radiallahu 'anhu bukan di dasari oleh kebencian atau lemahnya Khalid. Ketika Khalifah Umar ditanya tentang motif pemberhentian itu, beliau menyatakan, "Aku tidak memecatnya dengan begitu saja atau karena dia berkhianat, tetapi karena orang-orang terlalu terpesona dengan kehebatan Khalid. Aku Khawatir, mereka akan bergantung kepadanya.

Pemecatan ini membuat sejumlah orang yang benci kepada khalifah Umar sebagai celah untuk mengolok-oloknya. Naudzubillah, Sungguh pemecatan Khalid oleh Khalifah Umar bukanlah berlandaskan oleh nafsu, melainkan berdasarkan pertimbangan yang matang.

Semoga kita dapat mengambil pelajaran dari kisah ini.

Tuesday, April 05, 2016

Khalid bin Walid : Pembebasan Syam

Untuk kali ini kami akan berbagi tentang kisah Khalid bin Walid dalam membebaskan Syam. Setelah khalifah Abu Bakr radhiallahu 'anhu merampungkan tugasnya menumpas kaum murtad, ia berkeinginan mengarahkan pasukannya menuju Syam. Maka di buatlah, surat keputusan yang ditujukan untuk semua penduduk arab di Mekkah, Thaif, Yaman, dan seluruh rakyat arab di Nejed dan Hijaz yang isinya menyeru mereka melakukan mobilisasi umum guna melaksanakan jihad di jalan Allah dan mendapatkan rampasan perang kerajaan Romawi. Untuk itu, khalifah Abu Bakr radhiallahu 'anhu membentuk tiga unit pasukan yang dipimpin oleh tiga panglima. akan tetapi, Khalid bin Walid masih berada di Iraq, sementara memindahkan ribuan pasukan dari Iraq menuju Syam bukanlah hal yang mudah. Akhirnya Khalid pun berinisiatif meminta saran dari salah seorang penjelajah gurun terkemuka untuk mendapatkan jalan paling dekat menuju Syam.Setelah terjadi perbincangan, akhirnya Khalid setuju untuk menempuh sebuah rute perjalanan berat dari Iraq ke Syam.

Sesampainya di yarmuk, Khalid dan pasukannya bertemu dengan tentara kaum muslimin. Sementara itu, di sisi lain pihak Romawi berhasil membangun pasukan besar yang jumlahnya sekitar 200.000 tentara. Di Yarmuk, Khalid menerima mandat sebagai panglima besar yang membawahi seluruh satuan pasukan. Kemudian dia menerapkan suatu strategi pengerahan pasukan yang belum pernah ada dalam sejarah peperangan arab. Perang Yarmuk adalah saksi kegagahan kaum Muslimin dalam pengorbanan jiwa dan raga di jalan Allah Aza wa Jalla.

Pada perang tersebut, Khalid bertemu dengan seorang komandan pasukan Romawi yang bernama Jurjah (Gregorius Theodorus), sebelum kedua pasukan bertemu dalam kancah peperangan. Maka terjadilah dialog diantara keduanya.

Gregorius berkata, " Hai Khalid, jujurlah kepadaku dan janganlah sekali-kali mendustaiku. Benarkah Allah Azza wa Jalla telah menurunkan pedang dari Langit kepada nabimu, kemudian dia memberikan pedang itu kepadamu hingga engkau hunuskan pedang itu kearah musuh-musuhmu?"

"oh.... bukan seperti itu" jawab Khalid.

"Lantas, mengapa engkau mendapatkan Julukan "Pedang Allah yang Terhunus?" tanya Gregorius.

"Allah telah mengutus Rasul-Nya untuk kami. Maka, di antara kami ada yang beriman dan ada yang tidak. Dulunya, aku ini termasuk orang yang mendustakannya hungga Allah Azza wa Jalla mengarahkan dan menunjukkan hatiku kepada Islam melalui Rasul-Nya itu. Kamipun membai'at beliau lantas beliau mendo'akanku. Beliau berkata kepadaku, "Engkau adalah pedang diantara pedang-pedang Allah." Demikianlah julukan "pedang Allah" itu diberikan kepadaku, "Khalid radhiallahu 'anhu menceritakan kisah keislamannya.

Setelah dialog yang cukup panjang, cahaya islam mulai menerobos ke hati Gregorius. Akhirnya dia menyatakan keislamannya. Dia sempat melakukan shalat dua rakaat. Dalam hidupnya dia tidak pernah sholat melainkan dua rakaat itu. Semenjak itu, dia bergabung di barisan kaum Muslimin hingga terbunuh sebagai syahid di jalan Allah Azza wa Jalla.

Kaum muslimin terus berusaha menggetarkan tentara Romawi dan mengobrak abrik barisan mereka hingga akhirnya kekalahan demi kekalahan terus menghampiri pasukan Romawi.

Dalam pertempuran itu, Ikrimah bin Abu jahal dan Pamannya Al-Harits Al-Mahzumi serta Dhirar bin Azur gugur sebagai syuhada. Kemenangan berpihak kepada kaum Muslimin. Sementara, rantai yang diikatkan kepada pasukan Romawi tidak lagi mampu menahan mereka untuk lari dari medan peperangan.
Semoga kita dapat mengambil Faedah dari kisah ini.

Khalid bin Walid : Pembebasan Iraq

Semasa pemerintahan Daulah khilafah pada masa khulafau rasyidin isalam disebarkan dengan dakwah dan jihad. Pada masa khalifah Abu Bakr memimpin daulah Islam wilayah Islam bertambah luas meliputi Iraq dan Syam. Tentunya hal ini tidak lepas dari peran sang panglima perang kala itu, Khalid bin Walid. kali ini kami akan berbagi kisah bagaimana peran Khalid dalam membebaskan Iraq.

Khalifah Abu Bakr menyadari, bahwa Imperium Persia di Iraq dan Imperium Romawi di Syam merupakan dua buah kekuatan adidaya yang sangat membahayakan. Peran kedua negara ini sangat jelas pengaruhnya dalam menyulut perang Riddah yang sebenarnya bertujuan merongrongkekuatan Islam. Untuk mengatasi hal tersebut, diutuslah Khalid untuk mengajakmereka masuk kedalam Islam, atau kalau mereka menolaknya, masih ada dua opsi lain membayar Jizyah yang artinya mereka masuk kedalam Daulah Islam ataukah Perang.

Pertempuran yang pertama kali yang dijalani Khalid bin Walid dalam misinya kali ini adalah Pertempuran Hufair yang letaknya dekat dengan teluk Basrah yang masih dibawah kekuasaan Gubernur Hormuz. Pasukan Persia menggunakan rantai yang mengikat mereka agar tidak melarikan diri dari medan perang. Hormuz membuka peperangan ini dengan perang tanding melawang Khalid. Pada awalnya Hormuz berniat melakukan tipu muslihat terhadap Khalid dengan menyiapkan beberapa komandan terpilihnya untuk ikut menyerang Khalid. Akan tetapi, tidak berselang lama Khalid menyudahi perang tersebut dengan membunuh Hormuz. Setelah itu, kaum muslimin menyerbu pasukan Persia dengan kemenangan dipihak kaum Muslimin. Sementara itu, Khalid berhasil mengambil kopiah Hormuz yang menjadi simbol kebesaran Persia, lalu mengirimkannya kepada Baitul Mal. Hanya saja khalifah Abu Bakr menghadiahkannya kepada Khalid bin Walid atas jasa dan keberaniannya.

perang ini kemudian terkenal dengan sebutan Dzatu As-salaasil (Pertempuran Rantai), karena para tentara persia dirantai satu sama lain agar tidak melarikan diri dari pertempuran.

Setelah pertempuran Hufair ini, berturut-turut setelahnyaterjadi tiga peperangan lainnya. sebelumnya, ketika Khalid berhadapan dengan Hormuz di Hufair, Hormuz sempat mengirim pesan ke Istana Kisra untuk meminta bantuan. permintaan Hormuz tersebut disambut istana Kisra dengan mempersiapkan bala tentara yang lebih besar dengan dipimpin seorang panglima bernama Qarun.Akan, tetapi, ketika mereka mendapati pasukan Hormuz kalah dari tentara kaum muslimin, maka bala bantuan pasukan Persia pun mundur ke Tsiny, yang bermakna sungai. Meskipun demikian, Khalid terus mengejar mereka, memerangi, dan menawan mereka. Diantara para tawanan itu terdapat Abu Hasan al-Basri, seorang ulama besar yang saat itu masih memeluk Nasrani.

Setelah itu Khalid melanjutkan ekspedisinya ke Hirah. Setelah melakukan beberapa pertempuran kecil, dia dan pasukannya berhasil membebaskan seluruh Hirah pada bulan Rabiul awal tahun 12 H.

Dari Hirah, Khalid memimpin pasukannya menuju Daumatul Jandal untuk membantu Iyadh bin Ghanam yang saat itu sedang melakukan pengepungan terhadap benteng pertahanan. Bersama pasukan Iyadh, Khalid dan pasukannya melanjutkan pengepungan. Pemimpin pasukan Daumatul Jandal, Judi bin Rabiah bersama sekelompok pasukannya menyerang pasukan Iyadh, sementara kelompok pasukan murtad yang ke dua ditugaskan untuk memerangi Khalid beserta pasukannya. Akhirnya dua kelompk itu dapat dikalahkan dan Kaum Muslimin dapat menguasai bentengmereka.

peristiwa terakhir di Iraq yang dialami Khalid adalah Perang Firadh, yang terjadi disebelah utara Iraq.

Semoga kita dapat mengambil hikmah dari kisah para sahabat.

Khalid bin Walid : Penumpasan Musalimah al-Kadzdzab

Salah satu momok terbesar dari pemerintahan khalifah Abu Bakr radhiallahu 'anhu adalah Musailamah al-Kadzdzab. Dan Pada saat itu khalifah Abu Bakr mengutus Khalid bin Walid untuk menumpas Musailamah yang mengakibatkan sebahagian besar para penghapal Qur'an syahid. kami akan berbagi sedikit kishnya.

Perkara yang muncul tidak hanya pada Malik bin Nuwairah atau pada Thulaihah al-Asadi, tetapi ada yang jauh lebih besar dan kuat pengaruhnya yaitu Musailamah al-Kadzdzab. dia bukan hanya mengaku sebagai nabi, bahkan lebih dari itu dia mendapatkan dukungan terbesar dari kaumnya, Bani Hanifah yang terletak di Yamamah, sebuah daerah di Yaman. Selain itu, seorang wanita bernama sajah yang juga mengaku sebagai nabi ikut turu bergabung dengan Musailamah. Bahkan Sajah menikah dengan Musailamah. dengan perkawinan mereka, dua buah kekuatan mereka dapat di bersatukan. 
 
Khalid bin Walid datang dengan bala tentaranya. Dia memberikan semangat kepada para prajuritnya untuk berjihad dengan gagah beranidemi menumpas Musailamah dan komplotannya. Akhirnya, kaum muslimin berhasil memenangkan pertempuran yang sengit itu. korban dari pihak kaum muslim sebanyak 2.000 jiwa yang mati dan mendapatkan gelar sebagai syuhada dalam pertempuran tersebut. namun, sebgahagian dari mereka adalah para penghapal Qur'an. sedangkan korban tewas dari pihak lawan dalam hal ini adalah pihak Musailamah dan isterinya Sajah sebanyak 10.000 jiwa.
 
Dengan berakhirnya Penumpasan di daerah Yamamah tersebut, berakhir pula misi penumpasan kaum murtad di Jazirah Arab. Tak henti-hentinya kaum muslimin memanjatkan syukur kepada Allah azza wa jalla atas padamnya api fitnah itu untuk selamanya.
 
Semua itu tak lepas dari peran Abu Bakr sebagai khalifah saat itu dan tentunya berkat jasa panglima perang yang bijak, Saifullah al-Masluul (pedang Allah yang terhunus), Khalid bin Walid bin Mughirah radhiallahu 'anhu.

Semga kita dapat mengambil pelajaran dari kisah ini.

Monday, April 04, 2016

Khalid bin Walid : Perang Riddah

Siapa yang tak mengenal sahabat Khalid bin Walid. seorang panglima perang dimasa
Rasulullah dan masa khalifah Abu Bakr. kali ini kami akan berbagi kisah tentang
peran Khalid bin Walid dalam perang Riddah.

Setelah Nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wa salam wafat, tanah yang diinjak kaum
muslimin serasa sempit. Orang-orang yang suka berbuat onar dan orang munafik
kembali pada kekafiran dan kesesatan mereka secara nyata. Akibatnya, banyak
penduduk Arab yang dulunya memproklamirkan keislamannya kini murtad dan enggan
membayar zakat. pada saat yang demikian inilah, khalifah pertama, Abu Bakr
radhiallahu 'anhu, mengambil kebijakan untuk menumpas gerombolan mereka demi
memadamkan api fitnah kemurtadan. Tidak ketinggalan Khalid bin Walid radiallahu
'anhu, dia pun mengambil peranan penting dalam usaha tersebut sebagaimana yang
banyak dituliskan oleh tinta emas sejarah.

Khalid bin Walid bergerak bersama pasukannya untuk melakukan penumpasan terhadap
Thulaihah al-Asadi, salah seorang yang mengaku sebagai nabi. pergerakan Khalid bin
Walid radhiallahu 'anhu ini tentunya atas perintah khalifah saat itu Abu Bakr
radhiallahu 'anhu. Thulaihah telah mempersiapkan 40.000 pasukan untuk menghadapi
Khalid dan pasukannya. Pecahlah pertempuran sengit, dan kaum muslimin bertempur
dengan gagah berani. Akhirnya, kemenangan berpihak kepada pasukan Islam, sementara
kekalahan menghampiri kaum pemberontak yang munafik. hasilnya, pasukan murtadin
kocar-kacir dan mereka lari tunggang langgang. Akan tetapi, Khalid bin Walid
beserta pasukannya berhasil mengejar mereka hingga terlaksanalah apa yang menjadi
perintah Khalifah Abu Bakr radhiallahu 'anhu.

Selanjutnya, Khalid bersama pasukannya mengarahkan langkah kaki menuju tempat Malik
bin Nuwairah, seseorang yang memprovokasi penduduk agar tidak membayarkan zakat ke
Madinah. Setelah berhasil membunuh Malik bin Nuwairah, Khalid bin Walid memperistri
jandanya. Hal inilah yang sempat membuat Umar bin Khattab radhiallahu 'anhu sedikit
berang melihat ulah Khalid bin Walid, sehingga ia meminta kepada Abu Bakr
radhiallahu 'anhu menolaknya, "Demi Allah, aku sekali-kali tidak akan menyarungkan
pedang yang Allah subhanahu wata'ala telah menghunuskannya untuk memerangi kaum
musyrikin.

Semoga sepenggal kisah sahabat Khalid bin Walid ini bermanfaat bagi kita semua.

Sunday, April 03, 2016

Khalid bin Walid : Perang Mu'tah

Kemarin kita telah mengetahui kisah masuknya Khalid bin Walid kedalam Islam. Nah,
sekarang kami akan berbagi kisah Perang Mu’tah. Masih dengan tokoh utama Khalid bin
Walid.

Cahaya Islam telah menembus kedalam relung hati Khalid bin Walid yang terdalam.
Setelah itu , dia benar-benar menjadi “Pedang Allah Yang Terhunus”. Dalam peranf
Mu’tah , Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam menunjuk Zaid bin Haritsah sebagai
pemimpin pasukan. Kemudian, apabila ia gugur tampuk kepemimpinan dilanjutkan oleh
Ja’far bin Abu Thalib, dan apabila ia juga gugur dilajutkan oleh Abdullah bin
Rawahah. Pada peperangan mu’tah itu, ketiga sahabat radhiallahu ‘anhu tersebut
benar-benar gugur di medan perang. Akhirnya, kaum muslimin mencari siapa orang yang
akan memimpin pasukan. Merekapun sepakat untuk mengangkat Khalid bin Walid sebagai
komandan pasukan setelah ketiga sahabat tersebut syahid di medan perang. Shabat
yang telah ditunjuk oleh baginda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam untuk
menjadi panglima perang.

Pada perang tersebut, jumlah pasukan kaum muslimin lebih sedikit daripada pasukan
perang Romawi. Bahkan jumlah pasukan Romaswi berkali lipat lebih banyak dari
pasukan kaum Muslimin.

Bagi Khalid bin Walid radhiallahu ‘anhu, tidak ada pilihan lain kecuali menarik
mundur pasukan kaum muslimin untuk menghindari kerugian yang jauh lebih banyak.
Akhirnya kaum muslimin mundur dan kembali ke Madinah dengan jumlah korban yang
sedikit. Melihat keputusan Khalid bin Walid ini, para penduduk Madinah menyambutnya
dengan penuh celaan dan menjuliki pasukannya itu sebagai “orang-orang yang lari
dari peperangan”.

Namun, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam justru menghargai keputusan Khalid
bin Walid. Beliau pun bersabda, “Sesungguhnya mereka itu akan kembali (melakukan
penyerangan) dengan izin Allah, dan sekali-kali mereka bukanlah orang-orang yang
lari dari peperangan. Adapun Khalid, dia tetap menjadi pedang Allah”.

Seperti itulah kisah Khalid bin Walid dalam perang Mu'tah. Semoga kita dapat
mengambil pelajaran dalam setiap kisah dari para shabat radhiallahu 'anhum.

Friday, April 01, 2016

Khalid bin Walid : Perjalanan memeluk Islam

Walid bin Mughirah merupakan ayah dari salah satu panglima Islam Khalid bin walid. pada permulaan islam, ayah si "pedang Allah yang Terhunus" Walid bin Mughirah sangatlah membenci Islam. Bahkan, dia dikenal sebagai seorang yang paling keras memusuhi dakwah islam. dia adalah orang yang paling kuat tekanannya kepada para kaum muslimin. Memang, kala itu Walid merupakan seorang pembesar dari kaum musyrik. Akan tetapi, tatkala walid meninggal, muncullah Khalid  bin Walid menggantikan posisi ayahnya. Melihat betapa kuat dan mahirnya khalid bin walid dalam berperang dan cerdasnya dalam mengatur strategi perang, maka wajar orang-orang Quraisy menginginkan agar khalid tetap berada di pihak mereka. Dengan bergabungnya Hamzah bin Abdul Muthalib dan Umar bin Khattab ke dalam Islam membuat para petinggi Quraisy khawatir.

Peperangan pertama kaum muslimin dengan kaum musyrikin adalah di medan perang Badr. Pada saat perang Badr saudara Khalid bin Walid  yaitu walid bin walid berhasil di tawan oleh kaum muslimin. Ketika Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam memberi pilihan kepada Walid bin Walid apakah ia ingin memeluk Islam atau bebas dengan tebusan yang dibayar oleh keluarganya, Khalid pun segera bergegas untuk menebus dan membawa pulang saudaranya.

Namun, yang sangat mengejutkan Khalid, setibanya di Mekkah justru Walid saudara yang ia sayangi mengaku secara terang-terangan tentang keislmannya di depan para pemuka kafir Quraisy. Sontak Khalid bertanya kepada Walid tentang siakpnya tersebut, terutama tentang masuknya Walid kedalam Islam serta mengapa Walid tidak mengumumkan ke Islamannya sejak di Madinah? Maka Walid menjawab “ Sungguh aku melihat sendiri perlakuan baik kaum muslimin terhadapku yang aku sendiri belum pernah mendapatkan perlakuan seperti itu dari kerabatku yang paling dekat sekalipun. Hanya saja aku khawatir jika aku mengumumkan keislamanku di Madinah, jangan-jangan kaum Muslim akan berpikiran bahwa aku masuk kedalam Islam karena takut ditawan”.

Masuknya Islam Walid bin Walid membuat Khalid bin Walid geram dan marah sejadi-jadinya.  Hal ini membuat Khalid semakin menentang islam, rasa bencinya terhadap islam semakin besar. Manakala perang Uhud Khalid mendapatkan kepercayaan dari para pemimpin Quraisy untuk memimpin pasukan melawan kaum Muslimin. Khalid memimpin pasukan berkuda kaum musyrikin. Ia dan beberapa pasukan yang dipimpinnya memutar balik arah kudanya untuk melancarkan serangan kepada pasukan panah kaum muslimin yang melanggar perintah Rasulullah Shalallahu ‘Alihi wa salam.

Pada tahun Perjanjian Hudaibiyyah saat Rasulullah shalallahu ‘aliahi wa salam dan kaum muslimin mengunjungi masjidil haram, kembali Khalid dengan bala tentaranya bermaksud menghalau Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam beserta kaum muslimin dari masjidil haram. Akan tetapi Khalid menemukan mereka sedang melakuakn sholat berjamaah bersama Nabi shalallhu ‘alaihi wa salam sebagai imam mereka. Pemandangan tersebut yang kemudian membuat hati  Khalid bergetar serta menimbulkan kesan yang sangat dalam pada jiwanya.

Tak lama kemudian setelah itu, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam mengutus  Walid bin Walid, Saudara Khalid untuk mengajaknya masuk islam serta menyampaiakn salam beliau dan memberitahu Khalid bahwa selama ini Rasulullah selalu menanyakan dirinya. Akhirnya Khalid pun menghadap Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam dan memproklamirkan ke
 islamannya. Hal ini terjadi beberapa hari sebelum Fathu Makkah ( Pembebasan Mekkah).
Setelah memeluk islam maka Khalid pun berkata kepada Rasulullah “ Yaa Rasulullah, aku telah memposisikan diriku memerangi islam, maka berdo’alah kepada Allah agar dia mengampuniku.”
Untuk menenangkan hati Khalid, maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam menjawab “Islam  akan menghapus segala dosa yang telah berlalu, wahai Khalid!”

Namun Khalid tak hentinya memohonagar dimintakan ampunan, maka Rasulullah pun berdoa “ Ya Allah, ampunilah Khalid atas segala perbuatannya yang menghalangi manusia dari jalan-Mu”

Sejak saat itu Khalid berubah, dari komandan pasukan musyrikin menjadi komandan pasukan Muslimin dan “Pedang Allah yang terhunus” yang siap membela  agama-Nya. Khalid selalu menyertai Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam dalam setiap peperangannya dan menjadi pembela yang siap berjuang kapan saja di barisan kaum muslimin.

Seperti itulah kisah Keislaman “Syaifullah” Khalid bin Walid.

Popular Posts

Powered by Blogger.

Facebook