Showing posts with label Ilmuan. Show all posts
Showing posts with label Ilmuan. Show all posts

Thursday, July 14, 2016

Al-Jazari Sang Mekanik Terkemuka

Al-Jazari Sang Mekanik Terkemuka
Al-Jazari
Imajinasi manusia akan kehadiran robot ternyata bukan ilusi belaka. Namun, siapa sangka jika konsep dasar robot diletakkan oleh ilmuwan Muslim, yaitu Ibnu Ismail al-Jazari pada abad ke-13. Sumbangsih pemikiran tokoh kelahiran Diyar Bakir, Turki, pada 1136 ini telah mengubah lanskap teknologi beberapa abad kemudian. Ia bahkan dijuluki dengan Bapak Robot. Robot ciptaan al-Jazari beroperasi berkat bantuan tenaga air (hidrolik). Kelincahan robot besutan al-Jazari mampu mengibur tamu Kesultanan Turki dari Dinasti Artuqid dalam sebuah jamuan.

Sebagai seorang kepala insinyur kerajaan, Al-Jazari tak hanya mampu menciptakan robot pemain musik. Ia memelopori lahirnya sederet adikarya dalam bidang teknik dan teknologi. Berikut karya-karya al-Jazira yang banyak dirasakan manfaatnya pada pekembangan dan peradaban manusia di dunia.

Mesin Engkol
Mesin ini berhasil diciptakan al-Jazari pada 1206. Mesin ini merupakan bagian mesin yang terhubung dengan sistem roda atau batang yang mampu menggerakkan mobil dan motor. Penemuan ini dianggap sebagai pencapaian yang luar biasa. Pasalnya, engkol mesin merupakan peralatan mekanis yang penting setelah roda yang menghasilkan gerakan berputar terus-menerus.

Roda Gigi
Penemuan lain al-Jazari yang juga sampai sekarang dirasakan banyak manfaatnya oleh manusia di dunia, terutama pada dunia industri otomotif adalah roda gigi. Roda gigi salah satu jenis elemen transmisi paling penting pada suatu pemindahan gerak (terutama putaran). Penemuannya jauh mendahului jam astronomi Giovanni de Dondi pada 1364 dan karya Francesco de Giorgio pada 1501 dalam desain permesinan Eropa.

Mesin Pompa Air
Mesin pompa al-Jazari juga merupakan penemuan yang sangat bermanfaat pada zaman sekarang ini. Al-Jazari menemukan lima jenis mesin untuk memompa air, di antaranya, watermill dan water whell./ Dengan pompa air itu, keberadaan air di kedalaman berapa pun bisa disedot dengan mudah dan cepat tanpa memakan waktu dan tenaga. Bayangkan jika pompa air tidak ditemukan oleh sang ilmuwan yang mengabdi pada Dinasti Artuqid sejak 1174-1200 itu.

Thursday, May 19, 2016

8 Ilmuan Muslim dalam Bidang Biologi

Pada masa kekhilafahan terdapat banyak ilmuwan ahli biologi yang terkemuka namun tak dikenal oleh masyarakat muslim. Berikut adalah para ilmuwan tersebut

1. Al-Ghafiqi ( wafat pada tahun 1165 M )
"Dialah ahli botani paling cerdas pada masanya," Begitu George Sarton, ahli sejarah barat menyebut al-Ghafiqi. Ia mengoleksi beragam jenis tumbuh-tumbuhan yang diperolehnya dari wilayah Spanyol dan Afrika. Al-Ghafiqi membuat catatan yang menggambarkan secara akurat jenis-jenis tumbuhan koleksinya itu.
Deskripsi tentang tumbuh-tumbuhan yang dibuat al-Ghafiqi diakui sebagai karya yang paling membanggakan yang pernah dibuat seorang muslim. "Dia memberi nama setiap tanaman dalam tiga bahasa, yaitu Arab, Latin dan Barbar," Ujar sarton. Karya fenomenal al-Ghafiqi yang berjudul Al-Adwiyah Al-Mufradah memberikan inspirasi kepada Ibnu Baytar untuk meneliti tumbuh-tumbuhan secara sederhana seperti yang dilakukan al-Ghafiqi.
8 Ilmuan Muslim dalam Bidang Biologi
Al Gafiqi

2. Abu Zakariya yahya Ibnu Muhammad Ibnu Al-Awwam (abad 12 M)
Abu Zakariya merupakan ahli botani yang termahsyur dari Sevilla, Spanyol. Ia begitu terilhami oleh karya AL-Ghafiqi. Karyanya yang paling populer dalam botani adalah kitab yang berjudul Al-Filalah -Risalah islah terpenting dalam ilmu perkebunan di abad ke 12 M. Kitab itu menguraikan hasil penelitiannya terhadap 585 jenis tanaman.
Dalam kitab al-Filalahjuga dikupas gejala-gejala, nama penyakit tanaman serta cara mengatasi penyakit itu agar tanaman tumbuh dengan sehat. Observasi terhdap jenis tanah dan perbedaan jenis pupuk tanaman pun dibahas secara mendalam oleh Abu Zakariya dalam kitabnya itu.

3. Abdullah Ibnu Ahmad Ibnu Al-Baitar (wafat pada tahun 1248 M)
Al-baitar adalah ahli botani sekaligus ahli obat-obatan di Spanyol pada abad pertengahan. Ia mengoleksi dan memberi catatan atas 1.400 jenis tanaman obat  yang diperolehnya setelah menjelajahi daerah pesisir Mediterania dari Spanyol ke Suriah. Salah satu karyanya yang paling fenomenal berjudul Al-Mughani fii Al-Adwiyah al Mufradah.
8 Ilmuan Muslim dalam Bidang Biologi
Al Baitar
4. Abdul Abbas al-Nabati
Kecintaan dan ketertarikannya untuk meneliti dan mengoleksi berbagai jenis tanaman mendorongnya untuk menjelajahi pantai Afrika dari Spanyol hingga Arab. Yang dicarinya adalah tanaman langka di pantai Lautan Merah.

5. Abu Ubaidah (728 - 825 M)
Dia adalah ahli zoologi yang secara intens mempelajari tentang kuda. Ia menulis hampir 100 judul buku. Separuh diantaranya membahas tentang kuda.

6. Al-Jahiz
Ahli zoologi terkemuka dari Basra, Irak itu merupakan ilmuwan muslim pertama yang mencetuskan  teori evolusi. Pengaruhnya begitu luas di kalangan ahli zoologi muslim dan barat. Kitab yang paling terkenal yang ditulisnya adalah Kitab al-Haywan (Kitab tentang binatang). Kitab itu begitu lengkap membahas mulai dari kuman, teori evolusi, adaptasi dan psikologi binatang.
8 Ilmuan Muslim dalam Bidang Biologi
Al Jahiz

7. Al-Damiri (wafat pada tahun 1405 M)
hayat haywarz merupakan kitab zoologi yang paling penting dalam dunia islam. Kitab itu berupa ensiklopedia tentang kehidupan binatang. tak heran, jika al-Damiri diposisikan sebagai ahli zoologi yang terkemuka setelah al-Jahiz. Karya al-Damiri itu 700 tahun lebih cepat dari torehan yang dicapai Buffon -ahli zoologi barat-.

8. Al-Masudi
8 Ilmuan Muslim dalam Bidang Biologi
Salah satu Karya Al- Masudi
Al-Masudi merupakan ilmuwan muslim pertama yang meletakkan kerangka dasar teori evolusi melalui bukunya yang berjudul Meadiws of Gold (Padang Rumput Emas). Pemikiran Al-Masudi yang terruang dalam karya lainnya berjudul Al-Tanbih wal Ishraq, yang menggambarkan pengembangan teori dasar evolusi.

Wednesday, May 18, 2016

Biologi dan Perkembangannya di Dunia Islam

Geliat pencarian pengetahuan di dunia islam pada era keemasan sungguh sangat mengagumkan. Kekayaan flora dan fauna yang tersebar di wilayah kekuasaan  kekhalifahan islam tak luput dari perhatian para pemikir dan ilmuwan muslim. Studi tentang keragaman hayati yang dilakukan pada era itu telah memberi sumbangan bagi pengembangan studi ilmu hayat atau biologi.
Kontribusi terpenting yang didedikasikan para ilmuwan muslim di era kejayaan bagi pengembangan ilmu hayat adalah zoologi dan botani. Begitu banyak teori dan temuan yang dihasilkan ilmuwan muslim di kedua bidang kajian biologi itu. Sayangnya, sumbangan peradaban muslim itu tak pernah diungkapkan dalam pelajaran biologi yang diajarkan disekolah-sekolah di Indonesia.
Al-Jahiz


Zoologi dan Evolusi
Zoologi merupakan disiplin ilmu dari biologi yang secara khusus mempelajari hewan. Dalam bidang zoologi ahli biologi Muslim pada abad pertengahan sudah mengembangkan teori tentang evolusi. Menurut al-Khazini, ide tentang evolusi telah menyebarluas dalam peradaban islam di abad ke - 12 M. Pada masa itu, sekolah-sekolah islam telah mengajarkan teori evolusi.
John William Draper, ahli biologi barat yang sezaman dengan Charles Darwin paernah berujar, "Teori evolusi yang dikembangkan umat islam lebih jauh dari yang seharusnya kita lakukan. Para ahli biologi muslim sampai meneliti berbagai hal tentang anorganik serta mineral." Ahli biologi muslim yang pertama kali mengembangkan teori evolusi adalah Al-jahiz (781 - 869 M).
Ilmuwan dari abad ke-9 M itu mengungkapkan dampak lingkungan terhadap kemungkinan seekor binatang utnuk tetap bertahan hidup atau survive. Sejarah peradaban islam mencatat Al-Jahiz sebagai ahli biologi pertama yang mengungkapkan teori berjuang untuk bertahan hidup alias struggle for existence. untuk dapat bertahan hidup, papar dia, makhluk hidup harus berjuang.
Sejak sekolah dasar hingga sekolah menengah atas, semua pelajar di Indonesia telah diperkenalkan dengan rantai makanan saat belajar biologi. Namun, tahukah anda bahwa ilmuwan pertama yang mengungkapkan teori tentang rantai makanan itu adalah Al-Jahiz ahli biologi Muslim? Teramat begitu banyak, pencapaian yang dihasilkan oleh sarjana muslim yang disembunyikan oleh peradaban barat.
Al-jahiz juga merupakan penganut awal determinisme lingkungan. Dia berpendapat bahwa lingkungan dapat menentukan karakteristik fisik penghuni komunitas tertentu. Menurut dia asal muasal beragamnya kulit manusia terjadi akibat dari hasil lingkungan tempat mereka tinggal.
Berkat teori-teori yang cemerlang, Al-Jahiz pun dikenal sebagai ahli biologi terbesar yang pernah lahir di dunia islam. Ilmuwan yang amat tersohor di kota Basra, irak itu berhasil menuliskan kitab Kitab al-haywan (Buku tentang Binatang). Dalam kitab itu dia menulis  tentang kuman, teori evolusi, adaptasi dan psikologi binatang.
Kitab Al haywam Karangan Al-Jahiz

Salah seorang ahli biologi muslim lainnya yang mengkaji tentang teori evolusi adalah al-Mashudi. Buah pikirannya dituangkan dalam kitab, Al-Tanbih wal Ishraq. Selain itu, ilmuwan lainnya yang mengungkapkan teori evolusi bernama Ibnu Masikawaih.
Dalam kitabnya The Epistel of Ikhwan al-Safa, dia mengungkapkan tentang bagaimana spesies berkembang dari dalam sapa, mekudian air, mineral, tanaman, hewan dan seterusnya. Hasil karya Ibnu Masikawaih itu begitu populer di benua Eropa. malah, teori evolusi  itu telah memberi banyak pengaruh kepada Darwinisme.
Al-Jahiz pun tercatat sebagai ahli biologi pertama yang mencatat perubahan hidup burung melalui migrasi. Tak cuma itu, pada abad ke-9 M, al-Jahiz sudah mampu menjelaskan metode memperoleh amonia dari kotoran binatang melalui penyulingan. Sosok dan pemikiran al-jahiz pun begitu berpengaruh terhadap ilmuwan Persia, Al-Qazwini dan ilmuwan Mesir al-Damiri.
Di dunia Arab al-Damiri dikenal sebagai ahli zoologi terkemuka. Sumbangannya dalam pengembangan zoologi diberikan melalui buku yang ditulisnya Hayat Haywarz (Kehidupan Binatang). Kitab yang berupa ensiklopedia itu merupakan hasil karya ilmuwan muslim yang sangat penting dalam kajian zoologi. Ensiklopedoa sejarah binatang itu tercatat 700 tahun lebih awal dari yang ditulis Buffon - ahli biologi barat.
Dalam zoologi, studi tentang kuda menempati posisi yang terbilang amat banyak. Abu Ubaidah (728 - 825) merupakan ahli biologi muslim yang menulis lebih dari 100 kitab. Lebih dari separuh kitab yang ditulisnya itu mempelajari tentang kuda.

Botani
Botani merupakan salah satu bidang kajian dalam biologi yang mempelajari seluruh aspek biologi tentang  tumbuh-tumbuhan. Studi tentang botani mencapai puncak kejayaannya di Spanyol. Tak heran, bila sumbangan terbesar dalam botani diberikan umat muslim di Spanyol. Peradaban Islam di tanah Eropa itu telah melahirkan sejumlah ahli botani yang amat terkemuka.
Berkat ketajaman observasi dan penelitianya, para ahli botani muslim si Spanyol telah berhasil memasukkan perbedaan jenis tumbuh-tumbuhan seperti pohon  Palem dan pohon Rami. Ketertarikan para ahli botani islam terhadap tumbuh-tumbuhan telah membawa mereka menjelajahi bagian dunia islam yang luas dan mengarungi ganasnya samudera.

Mereka datag ke suatu wilayah untuk mengeksplorasi pegunungan dan menapaki luasnya gurun pasir guna menemukan tumbuh-tumbuhan langka. Para ilmuwan muslim itu lalu mengklasifikasikan tumbuh-tumbuhan yang mereka kumpulkan berdasarkan habitat tumbuh dan prose perkembangbiakannya. Dengan begitu, mekanisme tumbuhnya tanaman-tanaman itu bisa diketahui.
Pada era itu, para ahli botani muslim sudah menemukan beragam cara pembiakan tanaman. Ada yang berkembang dengan pembenihan atau pembibitan, pemotongan tangkai, ada juga tanaman yang tumbuh dengan proses alami atau pembelahan sel sendiri seperti rumput liar. Para ilmuwan muslim Spanyol mampu mengembangkan ilmu botani jauh sebelum barat melakukannya.
Howar R Turner dalam Science Medieval Islam mengungkapkan sebagian besar penelitian botani yang dilakukan umat islam memberi manfaat langsung bagi farmakologi dan farmasi yang berkembang di seluruh dunia Islam secara tak terduga. Bapak Sejarah sains barat George Sarton, menyatakan bahwa perkembangan pertanian dan hortikultura yang merupakan salah satu harta warisan paling berharga dari umat Islam di bidang botani.

Tuesday, May 17, 2016

Industri Kimia Islam

Bagi peradaban islam, kimia bukan hanya teori belaka. Melalui berbagai upaya, umat islam di abad ke emasan telah melahirkan sederet industri yang sangat bermanfaat bagi kehidupan umat manusia. Berikut ini adalah industri berbasis kimia yang dilahirkan peradaban islam.

Keramik dan Gerabah
Sejak abad ke - 8 hingga 18 M, penggunaan keramik glazed begitu populer di ranah seni islam. Teknologi penciptaan keramik itu dikembangkan para seniman islam. Basra, Iraq menjadi sentra pembuatan gelas tak tembus cahaya. Selain itu, ar-Raqqah, Suriah pada abad ke 8 M juga tercatat sebagai pusat produksi gelas dan gerabah.

Lem Keju
Dalam bukunya bertajuk Book of the Hidden Pearl, Jabir Ibnu Hayyan untuk pertama kali menjelaskan tentang resep pembuatan lem dari keju.

Minyak dan Produk-produk Turunannya
Sejak abad ke 8 M, jalanan di kota Baghdad telah dilapisi dengan aspal. Si hitam yang membuat jalan mulus itu merupakan produk turunan dari minyak setelah melalui distilasi. Pada abad ke 9 M, ladang minyak di sekitar Baku, Azerbaijan sudah mulai di eksploitasi dan di buat naftah atau minyak tanah.
Al-Razi tercatat sebagai kimiawan pertama yang mampu memproduksi minyak tanah melalui distilasi. Metode pembuatan minyak tanah itu diungkapkannya dalam kitab Al-Asrar (Buku Rahasia), Kimiawan Muslim tercatat sebagai yang pertama memproduksi bensin dari minyak mentah melalui distilasi.



Minyak Mawar
Pertama kali diproduksi oleh kimiawan muslim melalui distilasi bunga mawar. Minyak mawar digunakan untuk minuman dan industri parfum.

Industri Minuman
Kopi. Minuman kopi pertama kali berkembang di dunia islam . Kali pertama, minuman kopi ditemukan masyarakat Muslim di Yaman pada abad ke 10 M. Di Yaman, kopi diracik sebagai minuman bernama Al-Qahwa.Konon, minuman itu dibuat oleh kelompok sufi agar mereka dapat tetap beribadah serta berdzikir sepanjang malam. Kopi menyebar ke seluruh negeri Muslim melalui para pelancong, jamaah haji, dan para pedagang.
Minuman kopi mulai dikenal masyarakat Makkah dan Turki di akhir abad ke 15 M. Sedangkan masyarakat Mesir baru bisa mencicipi kopi pada abad ke 16 M. Masyarakat Eropa baru mengenal nikmatnya kopi pada abad ke 17 M. Kopi masuk ke Eropa melalui Italia. Hubungan perdagangan anatra Venisia dengan Afrika Utara, khususnya Mesir menjadi pintu masuknya kopi ke Eropa.

Penyulingan dan pemurnian air
Para kimiawan muslim merupakan yang pertama kalai memproduksi air suling dan air murni. Ini dilakukan untuk mengatasi perjalanan panjang melalui gurun yang tak jelas sumber airnya.

Minuman Ringan
Sherbet tercatat sebagai minuman ringan berkarbon pertama di dunia.
Kimiawan muslim di Era kejayaan juga banyak yang menciptakan resep minuman sirup yang dapat bertahan di luar lemari es selama satu pekan hingga satu bulan.

Batu Mulia dan Mutiara
Dalam kitab Al-Durra al-Maknuna Jabir sudah mampu menjelaskan resep pembuatan mutiara buatan dan pemurnian mutiara.

Gelas Silika
Industri gelas silika ditemukan Abbas Ibnu Firnas (810 - 887).Dia yang pertama menciptakan gelas dari pasir dan batu.

Kosmetika
Pengembangan produk kosmetika di dunia islam begitu gencar di lakukan seorang dokter dan ahli bedah Muslim di Andalusia, Al-Zahrawi (936 - 1013 M) pada abad ke 10 M. Dalam ensiklopedia kesehatan yang berjudul al-Tasreef, Abulcasis - begitu Barat menjuluki al-Zahrawi, telah mengupas secara khusus tentang kosmetika. Bagi al-Zahrawi, kosmetika merupakan bagian dari pengobatan. Kitab al-tasreef ini begitu besar pengaruhnya di Eropa.

Sabun
Sabun yang berasal dari minyak tumbuhan (Olive oil), minyak aroma pertama kali diproduksi oleh kimiawan muslim.

Parfum
Adalah fakta yang tak terbantahkan bahwa kebudayaan islam telah memberi pengaruh yang sangat signifikan terhadap perkembangan industri parfum di dunia Barat. Dunia Islam berkontribusi besar dalam memperkenalkan proses ekstraksi wewangian melalui teknologi distilasi uap yang dikembangkan para ilmuwan muslim sejak abad ke 8 M. Industri parfum modern di dunia barat pun banyak mengadopsi ramuan parfum yang telah di kembangkan para ahli kimia muslim.

Mesiu
Fakta sejarah menyebutkan bahwa ahli kimia muslim bernama Khalid bin Yazid (wafat tahun 709 M) sudah mengenal potasium nitrat (KNO3)- bahan utama pembuat mesiu- pada abad ke 7 M. Dua abad lebih cepat dari Cina. Menurut Prof Ahmad Y al-Hassan dalam bukunya bertajuk, Islamic Technology an Illustrated History tahun (1986), potasium mitrat dikenal di dunia teknologi islam dengan beragam nama. Senyawa kimia itu pada awalnya digunakan dalam proses metalurgi serta digunakan untuk membuat asam nitrat dan aqua regia.
"Rusmus dan respnya dapat ditemukan dalam karya-karya Jabir Ibnu Hayyan (wafat tahun 815 M), Abu Bakr al-Razi (wafat tahun 932 M), dan ahli kimia muslim lainnya," papar Prof al-hassan. Dari abad ke abad, istilah potasium nitrat di dunia islam selalu tampil dengan beragam nama, seperti natrun, buraq, mihl al-hai'it, shabb Yamani, serta nama lainnya.

Monday, May 16, 2016

Revolusi Kimia Dunia Islam


Ilmu kimia merupakan sumbangan penting yang telah diwariskan para kimiawan muslim di abad ke emasan bagi peradaban modern. Para ilmuwan dan sejarahwan barat pun mengakui bahwa dasar-dasar ilmu kimia modern diletakkan para kimiawan muslim. Tak heran, bila dunia menasbihkan kimiawan muslim bernama Jabir Ibnu Hayyan sebagai bapak kimia modern.

"Para kimiawan muslim adalah pendiri ilmu kimia," cetus ilmuwan berkebangsaan Jerman di abad ke 18 M. Tanpa tedeng aling-aling Will Durant dalam The Story of Civilization IV: The Age of Faith juga mengakui bahwa para kimiawan muslim di zaman ke khalifahan lah yang meletakkan fondasi ilmu kimia modern.

Menurut Durant, kimia merupakan ilmu yang hampir seluruhnya diciptakan oleh peradaban Islam. "Dalam bidang ini (kimia), peradaban Yunani (seperti yang kita ketahui) hanya sebatas melahirkan hipotesis yang samar-samar," ungkapnya. Sedangkan, peradaban islam, papar dia, telah memperkenalkan observasi yang tepat, eksperimen yang terkontrol serta catatan atau dokumen yang begitu teliti.

Tak hanya itu, sejarah mencatat bahwa peradaban islam di era kejayaan telah melakukan revolusi dalam bidang kimia. Kimiawan muslim telah merubah teori-teori ilmu kimia menjadi sebuah industri yang begitu penting bagi peradaban dunia. Dengan memanfaatkan ilmu kimia, ilmuwan islam di zaman kegemilangan telah berhasil menghasilkan sederet produk dan penemuan yang sangat dirasakan manfaatnya hingga kini.

Berkat revolusi sains yang digelorakan para kimiawan muslimlah dunia mengenal berbagai industri serta zat dan senyawa kimia penting. Adalah fakta yang tak terbantahkan bahwa alkohol, nitrat, asam sulfur, nitrat silver, potasium - senyawa penting dalam kehidupan manusia -  merupakan penemuan para kimiawan muslim.
Revolusi ilmu kimia yang dilakukan para kimiawan muslim di abad kejayaan juga melahirkan teknik-teknik sulimasi, kristalisasi dan distilasi. Dengan menguasai teknik-teknik itulah, peradaban islam akhirnya mampu membidani kelahiran sederet industri penting bagi umat manusia seperti; industri farmasi, industri tekstil, industri perminyakan, industri kesehatan, industri makanan dan minuman, industri perhiasan hingga industri militer.

 
Pencapaian yang sangat fenomenal itu merupakan buah karya dan dedikasi para ilmuan seperti ; Jabir Ibnu Hayyan, Al-Razi, Al-Majriti, Al-biruni, Ibnu SIna dan masih banyak yang lainnya. Setiap kimiawan muslim itu telah memberi sumbangan yang berbeda-beda bagi pengembangan ilmu kimia.
Jabir (721 M - 815 M), misalnya, telah memperkenalkan eksperimen atau percobaan kimia. Ia bekerja keras mengelaborasi kimia di sebuah laboratorium dengan serangkaian eksperimen. Salah satu ciri khas eksperimen yang dilakukannya bersifat kuantitatif. Ilmuwan muslim berjuluk "Bapak Kimia Modern" itu juga tercatat sebagai penemu sederet proses kimia seperti penyulingan / distilasi, kristalisasi, kalnasi dan sublimasi.

Sang ilmuwan yang dikenaldi barat itu dengan sebutan Geber itu pun tercatat berhasil menciptakan instrumen pemotong, pelebur dan pengkristal. Selain itu, dia pun mampu menyempurnakan proses dasar sublimasi, penguapan, pencairan, kristalisasi, pembuatan kapur, penyulingan, pencelupan dan pemurnian.

Berkat jasanya pula teori oksidasi - reduksi yang begitu terkenal dalam ilmu kimia terungkap. Senyawa atau zat penting seperti asam klorida, asam nitrat, asam asetat lahir dari hasil penelitian dan pemikiran Jabir.Ia pun sukses melakukan distilasi alkohol. Salah satu pencapaian penting lainnya dalam merevolusi kimia adalah mendirikan industri parfum.

Ilmuwan muslim lainnya yang berjasa melakukan revolusi dalam ilmu kimia adalah Al-Razi (lahir 866 M). Dalam karyanya berjudul Secret of secret, al-Razi mampu membuat klasifikasi zat alam yang sangat bermanfaat. Ia membagi zat yang ada menjadi tiga; zat keduniawian, tumbuhan, dan binatang, Soda serta oksida timah merupakan hasil kreasinya.

Al-Razi pun tercatat mapu membangun dan mengembangkan laboratorium kimia bernuansa modern. Ia menggunakan lebih dari 20 peralatan laboratorium pada saat itu. Dia juga menjelaskan eksperimen-eksperimen yang dilakukannya. "Al-Razi merupakan ilmuwan pelopor yang menciptakan laboratorium modern," ungkap Anawati dan Hill.

Bahkan, peralatan laboratorium yang digunakan zaman itu masih tetap dipakai hingga sekarang. "Kontribusi yang diberikan al-Razi dalam ilmu kimia sungguh luar biasa penting," cetus Eric John Holmyard (1990) dalam bukunya Alchemy. Berkat al-Razi pula industri farmakologi muncul di dunia.

Sosok kimiawan muslim lainnya yang tak kalah populer adalah al-Majriti (950 - 1007). Ilmuwan muslim asal Madrid, Spanyol ini berhasil menulis buku kimia bertajuk Rutbat al-hakim. Dalam kitab itu, dia memaparkan rumus dan tata cara pemurnian logam mulia. Dia juga dicatat sebagai ilmuwan pertama yang membuktikan prinsip-prinsip kekekalan masa - yang delapan abad berikutnya dikembangkan kimiawan barat bernama Lavoisier.

Sejarah peradaban Islam pun merekam kontribusi al-Biruni (wafat 1051) dalam bidang kimia dan farmakologi. dalam kitab al-Saydalah (Kitab obat-obatan), dia menjelaskan secara detail pengetahuan tentang obat-obatan. Selain itu, ia juga menegaskan pentingnya peran farmasi dan fungsinya. Begitulah, para kimiawan muslim di era kekhilafahan berperan melakukan revolusi dalam ilmu kimia.

Dikutip dari Buku Khazanah

Sunday, May 15, 2016

Apotek : Sebuah Karya Fenomenal dari Khilafah

The Canon od Medicine Karya Ibnu Sina
Peradaban islam dikenal sebagai perintis di bidang ilmu farmasi. Para ilmuawan muslim di era kejayaan islam sudah menguasai riset ilmiah mengenai komposisi, dosis, penggunaan dan efek dari pbat-obatan sederhana dan campuran. Selain menguasai bidang farmasi, masyarakat Muslim pun tercatat sebagai peradaban pertama yang memiliki aoptik atau toko obat.

Sharif Kaf al-Ghazal dalam tulisannya bertajuk The Valuable Contribution of Al-Razi (Rhazes) in The History of Pharmachy During the Middle Ages, mengungkapkan, apotek pertama di dunia berdiri di kota Baghdad pada 754 M. Saat itu, Baghdad sudah menjadi ibukota kekhalifahan daulah Abbasiyah, " Apotek pertama di Baghdad didirikan oleh para apoteker Muslim," Ungkap al-Ghazal. Jauh sebelum peradaban Barat mengenal apotek, masyarakat Ilam lebih dahulu menguasainya. Sejarah mencatat, apoteker pertama di Eropa baru muncul pada akhir abad ke-14, bernama Geoffrey Chaucer (1342 - 1400). Ia di kenal sebagai apoteker Inggris. Apotek mulai menyebar ke Eropa sejak abad ke -15 hingga ke - 19 M, praktisi apoteker mulai berkembang di benua itu.

"Umat islam-lah yang mendirikan warung pengobatan pertama," papar Howard R tuener dalam bukunya yang bertajuk Science in Medievel Islam. Philip K Hitti dalam bukunya yang terkenal bertajuk History of Arab, juga mengakui bahwa peradaban islamlah yang pertama kali mendirikan apotek.

"Selain itu, peradaban islam merupakan pendiri sekolah farmasi yang pertama," ungkap K Hitti. ia juga membuktikan bahwa umat Muslim di Era kekhalifahan sebagai pencipta pharmacopoeia yang pertama. Perkembangan ilmu farmasi yang begitu cepat membuat apotek atau toko-toko obat tumbuh menjamur di kota-kota islam.

Hampir di setiap rumah sakit islam di kota-kota besar Islam dilengkapi dengan apotek atau instalasi farmakologi. Apotek-apotek itu dikelola oleh apoteker yang menguasai ilmu peracikan obat. "kaum muslimin menyumbang begitu banyak hal terhadap perkembangan apotek atau obat, " Ungkap Howar R tuener dalam bukunya berjudul Science in Medievel Islam.

Di Era kejayaan islam, toko-toko obat bermunculan bak jamur di musim hujan. Toko obat yang banyak banyak jumlahnya tak cuma hadir di kota Baghdad -kota metropolis dunia di era kejayaan Daulah Abbasiyah- namun juga di kota-kota islam lainnya. Para ahli farmasi ketika itu sudah mulai mendirikan apotek sendiri. Mereka menggunakan keahlian yang dimilikinya untuk meracik, menyimpan serta menjaga aneka obat-obatan.

Pemerintah muslim pun turut mendukung pembangunan di bidang farmasi. Rumah sakit milik pemerintah ketika itu memberikan perawatan kesehatan secara cuma-cuma bagi rakyatnya juga mendirikan laboratorium  untuk meracik dan memproduksi aneka obat-obatan dalam skala besar.

Keamanan obat-obatan yang dijual di apotek pemerintah dan juga swasta dijaga secara ketat. Secara periodik, pemerintah melalui pejabat dari Al-Muhtasib - semacam badan pengawas obat-obatan- mengawasi dan memeriksa seluruh toko-toko obat dan apotek. Para pengawas dari Al-Muhtasib secara teliti mengukur akurasi berat dan kemurnian dari obat yang digunakan.

Pengawasan yang amat ketat itu dilakukan untuk mencegah penggunaan bahan-bahan yang berbahaya dalam obat dan sirup. Semua itu dilakukan semata-mata untuk melindungi masyarakat dari bahaya obat-obatan yang tak sesuai dengan aturan. Pengawasan obat-obatan yang dilakukan secara ketat dan teliti telah diterapkan di era kekhilafahan islam.

Perkembangan ilmu Botani dan Kimia telah mendorong umat muslim untuk mengembangkan farmasi. Pada masa itu, Ilmuwan muslim seperti Muhammad ibnu Zakariyah al-Razi (865 - 915 M) alias Razes turut mengembangkan pengobatan dengan menggunakan obat-obatan. Selain itu, dokter dan ahli farmasi muslim lainnya Abi al-Qasim Al-Zahrawi alias Abulcasis (936 - 1012 M) juga tercatat sebagai saintist perintis dalam bidang distialsi dan sublimasi.

Tak cuma itu, Sabur ibnu Sahl (wafat 869 M), juga tercatat sebagai dokter pertama yang mencetuskan pharmacoepedia. Ia menjelaskan beragam jenis obat-obatan untuk mengobati penyakit. Saintis Muslim lainnya yang turut menopang tumbuhnya apotek di era Islam adalah Al-biruni (973 - 1050 M). Sang ilmuwan legendaris islam itu telah menulis buku farmakologi yang sangat berharga bertajuk Kitab al-Saydalah (Buku tentang obat-obatan).

Kitab Al-Saydalah Karya Al-Biruni


Dalam kitabnya itu al-Biruni menjelaskan secara detail mengenai peralatan untuk pembuatan obat-obatab, peran farmasi, fungsi serta tugas apoteker. Ia juga menjelaskan tentang apotek. Ilmuwan muslim lainnya yaitu Ibnu Sina atau biasa dikenal dengan Avicenna di negara Barat juga menulis taka kurang dari 700 persiapan pembuatan obat, peralatannya, kegunaan dan khasiat obat-obatab tersebut. Kontribusi Ibnu Sina dalam bidang farmasi dituliskannya dalam bukunya yang sangat monumental Canon of Medicine.

Ilmuwan muslim lainnya yang turut menopang berdiri serta berkembangnya apotek di dunia islam adalah al-Maridini dan Ibnu al-Wafid (1008 - 1074 M). Kedua karya ilmuwan muslim itu telah dicetak dalam bahasa Latin lebih dari 50 kali. Kitab yang ditulis keduanya diterjemahkan ke dalam bahasa Latin berjudul De Medicinisuniversalibus et particularibus dan Medicamentis simplicibus.

"kaum muslimin telah menyumbang banyak hal dalam bidang farmasi dan pengaruhnya sangat luar biasa terhadap Barat," papar Turner. Menurut Turner, para sarjana muslim di zaman kejayaan telah memperkenalkan sederet obat herbal yang terbukti berkhasiat untuk kesehatan,seperti, adas manis, kayu manis, cengkeh, kamper, sulfur serta merkuri sebagai unsur atau bahan racikan obat-obatan.

Menurut K Hitti, kemajuan peradaban islam dalam dunia farmasi dan apotek ditopang oeh banyaknya buku dalam bidang farmakologi pertama di dunia yang ditulis oleh Jabir bin Hayyan. Selain itu, ada pula karya al-Razi, Tabari dan d Majusi. "Al-Razi dan Ibnu Sina adalah dua dokter yang paling terkemuka di zamannya," papar K Hitti.

Sejak dulu, apotek yang dikelola apoteker merupakan bagian yang tak terpisahkan dari institusi rumah sakit. Hal itu sama halnya dengan farmasi dan farmakologi yang juga merupakan bagian yang tak terpisahkan dari ilmu kedokteran. Dunia farmasi profesional  secara resmi terpisah dari ilmu kedokteran di era kekuasaan Khilafah Abbasiyah.

Terpisahnya farmasi dari kedokteran pada abad ke - 8 M, membuat farmakolog menjadi profesi yang independen dan farmakologi sebagai ilmu yang berdiri sendiri. Menurut Howard R Turner, praktisi seperti herbalis, kolektor, penjual tumbuhan, rempah-rempah untuk obat-obatan, penjual dan pembuat sirup, kosmetik, air aromatik, serta apoteker merupakan profesi yang menopang geliat farmasi di dunia Islam.

Dikutip dari buku Khazanah

Ilmuan Muslim dalam Dunia Farmasi

Di era kejayaan daulah khilafah islamiyah terdapat banyak ilmuwan muslim yang berkontribusi di bidang farmakologi berikut ilmuawan tersebut:

Ibnu al-Baitar
Lewat risalahnya yang berjudul Al-Jami fii al-Tibb (Kumpulan makanan dan obat-obatan yang sedrhana), Ibnu al-baitar turut memberi kontribusi dalam farmakologi dan farmasi. dalam kitabnya itu, al-Baitar mengupas beragam tumbuhan berkhasiat obat yang berhasil dikumpulkannya di sepanjang pantai Mediterania antara Spanyol dan Suriah.
Tak kurang dari seribu tanaman obat dipaparkannya dalam kitab itu. Seribu lebih tanaman obat yang ditemukannya pada abad ke-13 M itu berbeda dengan tanaman yang telah ditemukan ratusan ilmuwan sebelumnya. Tak heran bila kemudian al-Jami fii al Tibb menjadi teks berbahasa arab terbaik yang berkaitan dengan botani pengobatan. Capaian yang berhasil ditorehkan al-Baitar sungguh mampu melampaui prestasi Dioscorides. Kitabnya masih digunakan sampai masa Renaisans di Eropa.
Kitab Saydana fi al-Tibb


Abu ar-Rayhan al-Biruni (973 - 1051)
Al-Biruni mengenyam pendidikan di Khawarizm. Beragam ilmu pengetahuan dikuasainya seperti astronomi, matematika, filsafat dan ilmu alam. Ia memulai melakukan eksperimen ilmiah sejak remaja. Ilmuwan muslim yang hidup di zaman keemasan dinasti Samaniyyah dan Ghaznawiyyah itu turut memberi kontribusi yang sangat penting dalam farmakologi dan farmasi.
Melalui kitab As-Sydanah fii Tibb, al-Biruni mengupas secara lugas dan jelas mengenai seluk-beluk ilmu farmasi. Kitab penting bagi perkembangan farmakologi dan farmasi itu diselesaikannya pada tahun 1020 - setahun sebelum al-Biruni tutup usia-. Dalam kitab itu, al-Biruni tak hanya mengupas dasar-dasar farmasi, namun juga meneguhkan peran farmasi serta tugas dan fungsi yang di emban seorang farmakolog.

Abu Ja'far al-Ghafiqi 9wafat 1165 M)
Ilmuawan muslim yang satu ini juga turut memberi kontribusi dalam pengembangan farmakologi dan farmasi. Sumbangan al-Ghafiqi untuk memajukan ilmu komposisi dan menyimpan obat-obatan dituliskannya dalam kitab al-Jami' al-Adwiyyah al-Mufradah. Risalah itu memaparkan tentang pendekatan dalam metodelogi, eksperimen serta observasi dalam farmakologi dan farmsi.

Ar-Razi
Sarjana Muslim yang dikenal di barat dengan nama Razes itu juga ikut andil dalam membesarkan bidang farmasi dan farmakologi. Ilmuwan muslim serba bisa itu juga telah memperkenalkan penggunaan bahan kimia dalam pembuatan obat-obatan.

Sabur Ibnu Sahl 9wafat 869)
Ibnu Sahl adalah dokter pertama yang mempelopori pharmacopoeia. Kontribusinya dalam bidang farmakologi dan farmasi juga terbilang sangat besar. Dia menjelaskan beragam jenis obat-obatan dan remedies for ailments. sumbangannya untuk farmakologi dan farmasi dituangkannya dalam kitab al-Aqrabadhin.

Ibnu Sina
Dalam kitab fenomenalnya, Canon of Medicine, Ibnu Sina juga mengupas tentang farmakologi dan farmasi. Ia menjelaskan lebih kurang dari 700 cara pembuatan obat dengan kegunaannya. Ibnu SIna menguraikan tentang obat-obatan yang sederhana.

Al-Zahrawi
Bapak ilmu bedah modern ini juga ikut andil dalam membesarkan farmasi dan farmakologi. Dia adalah perintis dalam pembuatan obat dengan cara sublimasi dan distilasi.

Yuhanna Ibnu Masawaih (777-857)
Orang barat menyebutnya Mesue. Ibnu Masawaih merupakan anak seorang apoteker. Kontribusinya juga terbilang penting dalam pengembangan farmasi dan farmakologi. Dalam kitab yang ditulisnya, Ibnu Masawaih membuat daftar sekitar 30 macam aroatik.
Salah satu karya Ibnu Masawaih yang terkenal adalah kitab al-Mushajjar al-Kabir. Kitab ini merupakan semacam ensiklopedia yang berisi daftar penyakit berikut pengobatannya melalui obat-obatan serta diet.

Abu Hasan 'Ali Sahl Rabban at-Tabari
At-Tabarilahir pada tahun 808 M. Pada usia 30 tahun, dia dipanggil oleh khalifah Al-Mu'tasim ke Samarra untuk menjadi dokter istana. Salah satu sumbangan at-Tabari dalam bidang farmakologi adalah dengan menulis sejumlah kitab. Salah satunya yang terkenal adalah Paradise of Wisdom. Salah satu babnya membahas tentang pengobatan menggunakan binatang dan organ-organ burung. Dia juga memperkenalkan sejumlah obat serta cara pembuatannya.

Saturday, May 14, 2016

Khilafah: Geliat Dunia Farmasi

"Setiap penyakit pasti ada obatnya." Sabda Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam yang begitu populer di kalangan umat islam itu tampaknya telah memicu para ilmuan dan sarjana era kekhalifahan untuk berlomba meracik dan menciptakan beragam obat-obatan. Pencapaian umat islam yang begitu gemilangdalam bidang kedokteran dan kesehatan di masa keemasan tidak lepas dari keberhasilan di bidang farmakologi dan farmasi.

Di masa itu para dokter dan ahli kimia muslim sudah berhasil melakukan peelitia ilmiah megenai komposisi, dosis, peggunaan dan efek dari obat-obat sederhana serta campuran. Menurut Howard R Turner dalam bukunya Science in Mediviel Islam, Umat islam mulai menguasai farmakologi da farmasi setelah melakukan gerakan penerjemahan secara besar-besaran. di Era ke khalifahan Abbasiyah.

Salah satu karya yang diterjemahkan adalah De Materis Medica karya Dioscorides. Selain itu para sarjana dan ilmuan muslim juga melakuka transfer pengetahuan tentang obat-obatan dari berbagai naskah yang berasal dari Suriah, Persia, India serta Timur Jauh.

karya-karya terdahulu telah membuat para ilmuwan islam terinspirasi untuk melahirkan berbagai inovasi dalam bidang farmakologi. "kaum muslimin telah menyumbang banyak hal dalam  bidang farmasi dan pengaruhnya sangat luar biasa terhadap barat," papar Turner.

Betapa tidak, para sarjana muslim di zaman kejayaan telah memperkenalkan adas manis, kayu manis, cengkeh, kamper, sulfur serta merkuri sebagai unsur atau bahan racikan obat-obatan. Menurut Turner umat islamlah yang mendirikan warung pengobatan pertama. Para ahli farmakologi islam juga termasuk yang pertama dalam mengembangkan dan menyempurnakan dalam pembuatan sirup dan julep.

Pada awalnya, farmasi dan farmakologi merupakan bagian yang tak terpisahkan dari ilmu kedokteran. Dunia farmasi profesional secara resmi terpisah dari ilmu kedokteran di era kejayaan Daulah khilafah Abbasiyah. Terpisahnya farmasi dari kedokteran pada abad ke- 8 M, membuat farmakologi menjadi profesi yang independen dan farmakologi sebagai ilmu yang berdiri sendiri.

Dalam praktiknya, farmakologi dan farmasi melibatkan banyak praktisi seperti herbalis, kolektor dan penjual tumbuhan dan rempah-rempah untuk pengobatan, penjual dan pembuat sirup, kosmetik, air aromatik serta apoteker yang berpengalaman. Merekalah yang kemudian turut mengembangkan farmasi di era kejayaan islam.

Setelah dinyatakan terpisah dari ilmu kedokteran, beragam penelitian dan pengembangan dalam bidang farmasi atau saydanah (bahasa arab) kian gencar dilakukan. Pada abad itu, para sarjana dan ilmuwan muslim secara khusus memberi perhatian untuk melakukan investigasi atau pencarian terhadap beragam produk alam yang bisa digunakan sebagai obat-obatan di seluruh pelosok dunia islam.

Di zaman itu, toko-toko obat bermunculan bak jamur di musim hujan. Toko obat yang bnayk jumlahnya tak hanya hadir di kota Baghdad -kota metropolis dunia di era kejayaan Abbasiyah- namun juga di kota-kota islam lainnya. Para ahli farmasi ketika itu sudah mulai mendirikan apotek sendiri. Mereka menggunakan keahlian yang dimilikinya untuk meracik, menyimpan serta menjaga aneka obat-obatan.

Pemerintah muslim pun turut mendukung pembangunan dibidang farmasi. Rumah sakit milik pemerintah yang ketika itu memberikan perawatan kesehatan secara cuma-cuma bagi rakyatnya juga mendirikan laboratorium untuk meracik dan memproduksianeka obat-obatan dalam skala besar.

keamanan obat-obatan yang dijual di apotik pemerintah dan swasta diawasi secara ketat. Secara periodik, pemerintah melalui pejabat dari al-Muhtasib -semacam badan pengawas obat-obatan- (kalau di Indonesia lebih kita kenal dengan BPOM) mengawasi dan memeriksa seluruh toko obat dan apotik. Para pengawas dari al-Muhtasib secara teliti mengukur akurasi berat dan kemurnian dari obat yang digunakan.

pengawasan yang amat ketat itu dilakukan untuk mencegah penggunaan bahan-bahan yang berbahaya dalam obat dan sirup. Semua itu dilakukan semata-mata untuk melindungi masyarakat dari bahaya obat-obat yang tak sesuai dengan aturan. Pengawasan obat-obatan yang dilakukan secara ketat dan teliti yang telah diterapkan di era ke khalifahan islam mestinya menjadi contoh bagi negara-negara muslim, khususnya Indonesia.

Seperti halnya dibidang kedokteran, dunia farmasi profesional islam telah lebih unggul lebih dulu dibandingkan Barat. Ilmu farmasi baru berkembang di eropa mulai abad ke-12 M atau empat abad setelah islam menguasainya. Karena itulah, barat banyak meniru dan mengadopsi ilmu farmasi yang berkembang terlebih dahulu di dunia islam.

Umat islam mendominasi bidang farmasi hingga abad ke-17 M. Setelah era keemasan perlahan memudar, ilmu meracik dan membuat obat-obatan lalu dikuasai oleh barat. Negara-negara eropa yang menguasai farmasi dari aneka risalah Arab dan persia tentang obat dan senyawa obat yang ditulis para sarjana dan ilmuwan muslim. Tak heran, bila kini industri farmasi dunia berada dalam genggaman barat.

Pengaruh kaum muslimin dalam bidang farmasi di dunia barat begitu besar. " Hal itu tercermin dalam kembalinya minat terhadap pengobatan natural yang begitu populer dalam pendidikan kesehatan saat ini," papar Turner. Mungkinkah Umat Islam kembali menguasai dan mendominasi bidang farmasi seperti di era kejayaan daulah khilafah?


Dikutip dari buku Khazanah

Thursday, May 12, 2016

Kontribusi peradaban Islam dalam Dentisry [10]

Ajaran Islam memrintahkan agar umatnya senantiasa menjaga kesehatan gigi dan mulut. Dalam salah satu haditsnya, Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wa salam pernah bersabda :"seandainya tidak akan merepotkan umatku, maka aku akan perintahkan kepada mereka untuk membersihkan gigi pada setiap akan sholat". (HR. Bukhari dan Muslim).

Islam memahami bahwa menjaga kesehatan gigi dan mulut akan sangat menentukan kualitas hidup manusia. Tak heran jika seabad setelah Rasulullah wafat, para dokter muslim di era keemasan terdorong untuk turut mengembangkan ilmu kedokteran gigi (dentistry). Sejatinya, pengobatan gigi telah diterapkan manusia dari peradaban lembah indus bertarikh 7000 hingga 5000 SM.

Namun, ilmu kedokteran gigi justru berkembang pesat pada era kejayaan peradaban Islam. Henry W. Noble (2002) dalam Tooth transplantation: a controversial story, History of Denstistry Group, Scottish Society for The History Medicine mengakui bahwa para dokter muslim di era kekhalifaan merupakan perintis dalam pengembangan ilmu kedokteran gigi.

Peradaban barat saja baru mengembangkan ilmu kedokteran gigi secara khusus pada abad ke 17 M. buku pertama tentang kedokteran gigi di barat baru hadir tahun 1530 M bertajuk "Artzney Buchlein". buku teks kedokteran gigi dalam bahasa Inggris baru muncul tahun 1685 karya Charles Allen berjudul Operator for the Teeth.

Bahkan masyarakat amerika baru mengenal adanya dokter gigi pada abad ke-18 M. John Baker merupakan dokter pertama yang praktik di benua itu. Baker merupakan dokter gigi yang berasal dari Inggris. Amerika baru memiliki dokter gigi sendiri pada tahun 1779 bernama Isaac Greenwood.

Lucunya, peradaban barat mengklaim Pierre Fauchard _berkebangsaan Prancis- yang hidup di abad ke 17 sebagai "bapak ilmu kedokteran gigi modern". Padahal, menurut Noble, 700 tahun sebelum Fauchard hidup, seorang dokter musli bernama Abu al Qasim Khalaf Ibnu al-Abbas al-Zahrawi alias Abulcasis (930 - 1013) telah sukses mengembangkan bedah gigi dan perbaikan gigi.

Keberhasilannya yang telah memukau para dokter gigi modern itu tercantum dalam kitab Al-Tasreef. Kitab itu tercatat sebagai teks pertama yang mengupas bedah gigi secara detail. "Dalam kitabnya itu, Abulcasis juga secara detail menggambarkan keberhasilannya dalam melakukan penanaman kembali gigi yang telah dicabut," papar Noble.

Al- Zahrawi juga tercatat sebagai dokter yang mempelopori penggunaan gigi palsu atau gigi buatan yang terdiri dari tulang sapi. Kemudian gigi palsu itu dikembangakan lagi menggunakan kayu - seperti yang digunakan oleh presiden Amerika serikat yang pertama, George Washington 700 tahun kemudian.

Sumbangan penting dokter muslim di era kejayaan dalam pengembangan ilmu kedokteran gigi juga diungkapkan oleh Salma almahdi (2003). dalam tulisannya berjudul Muslim Schoolar Contribution in restorative for the History of Islamic Medicine. Menurut Almahdi, dokter gigi muslim dari abad ke-10 M lainnya yang mengembangkan dentistry adalah Abu Gaafar Amed ibnu Ibrahim ibnu Abi Halid al-Gazzar.

Dokter gigi asal afrika utara itu memaparkan metode perbaikan gigi secara detail dalam Kitab Zad al-Musafir wa qut al-Hadir. Kitab itu lalu diterjemahkan kedalam  bahasa Latin sebagai Viaticum oleh Canstantine the African di Universitas Salerno - yang berada di selatan Italia. "Kitab yang ditulis al-Gazzar merupakan yang pertama yang mengupas tentang perawatan gigi busuk / rusak," papar Almahdi.

Dalam kitabnya, Al-Gazzar menyatakan bahwa hal pertama yang perlu diperhatikan untuk mengobati gigi yang busuk adalah membersihkannnya. Kemudian, papar dia, gigi itu diisi dengan gallnut, madu kemenyan, terbinth yang mengandung damar, pohon cedar yang mengandung damar, pellitory atau pengasapan dengan akar colocynthis.

Al-Gazzar pun merekomendasikan senyawa arsenik untuk gigi berlubang. Campuran ini juga mampu mengatasi pembusukan gigi serta mengundurkan dan meredakan ketegangan syaraf. Dokter muslim lainnya yang memberikan sumbangan penting bagi ilmu kedokteran gigi adalah Ibnu SIna lewat karyanya yang sangat fenomenal bertajuk The Canon of Medicine. Menurut Almahdi, Ibnu SIna terpengaruh oleh al-Gazzar dalam pengobatan gigi.

Meski begitu, Ibnu SIna mengembangkan sendiri pengobatan gigi dengan caranya sendiri. Baik al-Gazzar maupun Ibnu Sina sepakat bahwa kebusukan pada gigi disebabkan oleh cacing gigi. Namun pendapat itu dipatahkan oleh dokter muslim lainnya dari abad ke-12 bernama Gaubari. Dalam Book of the Elite yang ditulisnya, Gaubari menyatakan bahwa dalam kenyataannya cacing gigi tak pernah ada, Sejak abad ke 13 m, teori cacing gigi akhirnya tak lagi diterima dalam kedokteran Islamm.

Kontribusi peradaban Islam lainnya yang tak kalah penting dalam kedokteran gigi diberikan oleh Abu Bakr  Muhammad Ibnu Zakaria Ar-Razi. Dokter legendaris diera keemasan peradaban Islam itu juga secara khusus mengembangkan perawatan kesehatan gigi. Ar-Razi terbilang sebagai dokter muslim pertama yang memberi sumbangan bagi ilmu kedokteran gigi.

Menurut Almahdi, Ar-Razi mencoba merekomendasikan metode yang dikembangkan Galen -dokter dari peradaban Yunani- dalam melepas gigi rusak dengan cara dibor. untuk mengurangi rasa sakit saat gigi dibor, dokter terkemuka  di kota Baghdad itu  menganjurkan agar lubang gigi ditetesi minyak.

Selain mengkaji masalah gigi, dokter muslim di era kekhalifaanpun sudah mengkaji  kesehatan mulut, salah satunya soal lidah. Organ penting yang biasa digunakan untuk mengunyah, menelan dan berbicara itu dapat perhatian khusus dari Ibnu Sina. Dalam Canon the Medicine, Ibnu Sina mengkaji berbagai penyakit lidah dan penyembuhannya.

Menurut Almahdi, dalam kitabnya yang sangat lengkap itu Ibnu Sina menerangkan tentang anatomi lidah serta penyakit-penyakit yang sering dialami organ lidah baik sensorik maupun motorik. Ibnu Sina membahas masalah lidah secara mendalam dalam empat belas bab.

Betapa sumbangan peradaban islam bagi dunia kedokteran sungguh begitu luar biasa. Namun, kontribusi penting para dokter muslim itu kerap dinihilkan dan disembunyikan peradaban Barat. Tak heran, bila pencapaian para ilmuan muslim di era kejayaan itu tak diketahui masyarakat islam di era modern ini, sungguh ironis memang.

Dikutip dari buku Khazanah

Wednesday, May 11, 2016

Era Khilafah Pelayanan Rumah Sakit Standar Tinggi [10]

Pelayanan berstandar tinggi merupakan salah satu ciri utama rumah sakit (RS) islam di era kekhalifahan. pencapaian gemilang di era keemasan tersebut tak pernah tertandingi bangsa dan peradaban lainnya. Para khalifah memberi perhatian secara khusus tak hanya pada pendidikan namun juga taraf kesehatan rakyatnya.

Bukan tannpa alasan jika pemerintahan islam di era keemasan menerapkan pelayanan kesehatan tiggi bagi rakyatnya. Para khalifah menyadari bahwa kesehatan merupakan bagian dari peradaban sebuah bangsa. Apalagi umat islam meyakini bahwa setiap peyakit ada obatnya. Sehingga membutuhkan ilmu kedokteran yang dapat menyembuhkan penyakit dengan standar pelayanan yang bagus.

Apalagi, ketika itu masyarakat muslim hidup dalam kemakmuran. mereka pasti akan mecari pengobatan terbaik. Selain itu, pada era keemasan ilmu pendukung kedokteran dan kesehatan tengah berkembang dengan begitu pesat. Maka, melayai kesehatan masyarakat dengan standar yang tinggi merupakan sebuah keharusan.

Pelayanan kesehatan berstandar pada era keemasan islam juga ditopang dengan prestise dokter yang sagat tinnggi. Kala itu, para dokter dibayar dengan gaji yang sangat tinggi. Selain itu, setiap orang dari berbagai status memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi dokter.

Meski begitu, upaya yang harus ditempuh untuk menjadi seorang dokter tidaklah mudah. Seseorang bisa diterima menjadi mahasiswa kedokteran apabila menguasai studi islam, filsafat, astronomi, sei, kimia dan lainya. Dokter adalah orag yag bijak dan berpegalaman.

Tingginya standar pelayanan RS juga didukug keterlibatan dan keberpihakan penguasa dalam mengelola layanan publik. Para khalifah membagun RS di wilayah kekuasaan didasarka atas alasan agama, keabdia dan politik. Secara agama tentu alasannya ibadah.

Dari sisi keabadian, dengan membangun RS para pemimpi itu igin tetap dikenang. Sedangkan dari akcamata politik, ingin menujukkan sebagai pemimpin  yang memperhatikan asib rakyatnya. Apapun alasannya, rakyat meikmati fasilitas kesehatan berstandar tinggi itu.

Selai itu, pelayanan kesehata berstandar tinggi itu juga di dukung dengan pendanaan yang cukup. Para penguasa mengalokasikan dana untuk operasional RS. Selain itu, RS beroperasi dengan bantuan dan donasi serta wakaf dari umat islam ketika itu. Sudah semestinya, konsep ideal ini diterapkan para pemimpin dan penguasa saat ini. Namun, semua ini tak akan terwujud dalam sistem yang di adopsi pemerintah saat ini. Sistem yang memisahkan agama dengan kehidupan. Semua ini hanya bisa dicapai ketika sistem islam kembali diterapkan. Menerapkan syariat islam dalam sebuah institusi yang dikenal dengan khilafah.

Beberapa RS islam terkemuka dengan pelayanan berstandar tinggi di era kekhalifahan.
Damaskus:
RS al-Nuri RS terkemuka pertama yang didirikan pada tahun 706 M.
Yerusalem:
RS al-Salahai dibangun pada 1187 M. Awalnya bernama RS Saint John. RS itu hancur digucang gempa bumi pada 1458 M.
Irak:
RS Baghdad didirikan khalifah al-Mansur pada tahun 776 M. Pada tahun 918 M, khalifah al-Mugtadir mendirikan dua RS yakni, al Sayyidah dan al-Mugtadiri. Pada tahun 981 M berdiri pula RS al-Adudi.
Mesir:
RS al-Fusta di kota Fustat pada 872 M pada masa kekuasaan Ahmed Ibnu Tulun. Pada tahun 1284 M, khalifah al-Mansur Qalwu membangu RS al-Mansuri Hospital.
Tunisia:
RS al-Qayrawan, berdiri di kota Qayrawan pada 830 M dibangun Pangeran Ziyadat Allah I.
Moroko:
RS Marakech. Didirika pada tahun 1190 M oleh Raja al-Mansur Ya'qub ibnu Yusuf di kota Marakech.
Spanyol:
RS Granada. Dibangun pada tahun 1366 M oleh pangeran Muhammad Ibnu Yusuf Ibnu Nasr.

Monday, May 09, 2016

Bimaristan : Konsep Ideal Rumah Sakit Islam

Sebelum islam datang dan mencapai masa kejayaannya, dunia ternyata belum mengenal konsep rumah sakit (RS), seperti saat ini. Bangsa Yunani, misalnya, merawat orang-orang sakit di petiharan yang berdekatan dengan kuil untuk disembuhkan pendeta. Proses pengobatannya pun lebih bersifat mistis  yang terdiri dari sembahyang dan berkorban untuk dewa penyembuhan bernama Aaescalapius.
Menurut ketua Institut Internasional Ilmu Kedokteran islam, Husain F Nagamia MD, Sederet RS baru dibangun dan dikembangkan mulai awal kejayaan islam. Pada masa itu tempat untuk mengobati dan merawat orang sakit dikenal dengan sebutan "Bimaristan atau "Maristan". "Ide membangun RS sebagai tempat merawat orang sakit mulai diterapkan pada awal kekhalifahan ISlam" papar Husain.

RS pertama dibangun atas permintaan khalifah Al-Walid (705 - 7015 M) seorag khalifah dari daulah khilafah Umayyah. tempat perawatan yang dikenal dengan nama 'Bimaristan' itu tak hanya disediakn untuk penderita leprosoria tapi juga bagi penderita lepra yang saat itu merajalela. Untuk merawat para pasien itu, khalifah menggaji tenaga dokter dan perawat.

"RS Islam pertama yang sebenarnya dibangun pada era kekuasaan khalifah harun ar-Rasyid (786 - 809)," ungkap Husain. Setelah berdirinya RS baghdad, di metropolis intelektual itu mulai bermunculan RS lainnya. konsep pembangunan beberapa RS di Baghdad itu merupakan ide dari ar-Razi, dokter muslim terkemuka.

Dalam catatan perjalanannya, seorang sejarahwan bernama Djubair sempat mengunjungi Baghdad pada 1184 M. Ia melukiska, RS yang ada di Baghdad seperti 'sebuah istana yang megah'. Airnya dipasok dari Tigris dan semua perlengkapannya mirip istana raja. Menurut dokter Hossam Arafah dalam tulisanya berjudul Hospital in Islamic History pada akhir abad ke-13, RS sudah tersebar di seantero arab.

Pada era keemasan, RS islam yang tersebar dikawasan arab itu memiliki krakter yang khas.Pertama, RS islam melayani semua orang tanpa membedakan warna kulit, agama serta latar belakang. RS islam dikelola pemerintah. Direkturnya biasanya seorang dokter. Di RS itu semua dokter dengan keyakinan agama yang berbeda-beda bahu membahu bekerja sama untuk menyembuhkan pasien.

Kedua, sudah menerapkan pemisahan bangsal. Pasien pria dan waita menempati bangsal yang terpisah. Penderita penyakit menular juga dirawat di tempat yang terpisah dengan pasien lainya. Ketiga, pembagian perawat. Perawat pria bertugas merawat pria dan perawat wanita merawat pasien wanita.

Keempat, memperhatikan kamar mandi dan pasokan air. Sholat lima waktu merupakan rukun Islam yang wajib bagi setiap muslim. Baik dalam kondisi sehat maupun sakit, sholat tetap merupakan sebuah kewajiba.Meski begitu, orang sakit mendapat keriganan untuk melaksanakan sholat berdasarkan kemampuan fisiknya.

bagi mereka yang tak mampu, bisa sholat sembari tidur di atas kasur. Sebelum menunaikan ibadah sholat, setiap muslim harus berwudhu membersihkan wajah, tangan, kepala dan kaki. Utuk memenuhi kebutuhan itu, RS menyediakan air yang melimpah dengan dilengkapai fasilitas kamar mandi.

Kelima, tak sembarang dokter yang bisa praktik di RS. Hanya dokter-dokter yang berkualitas yang diizinkan untuk megobati pasien di RS. Khalifah Al- Mugtadir dari khilafah daulah Abbasiyah sangat memperhatikan betul kualitas dokter yang bertugas di RS. Untuk memastikan semua dokter berkualitas, khalifah memerintahkan kepala dokter istana, Sinan Ibnu Thabit untuk menyeleksi 860 dokter yang ada di Baghdad.

Dokter yang mendapat izin praktik di RS hanyalah mereka yang lolos seleksi yang ketat. tak hanya di Baghdad, khalifah juga memerintahkan Abu Osman Said Ibnu Yaqub untuk melakukan seleksi serupa di wilayah Damaskus, Makkah, dan Madinah. Hal itu dilakukan, lantaran kedua kota suci itu setiap tahunnya dikunjungi jamaah haji dari seluruh dunia.

Keenam, RS islam pada zaman kekhalifahan tak hanya untuk sekedar tempat merawat dan megobati orang sakit. RS juga berfungsi sebagai tempat menempa mahasiswa kedokteran, tempat pertukaran ilmu kedokteran dan pusat pengembangan dunia kesehatan dan kedokteran secara keseluruhan.

RS besar dan terkemuka dilengkapi dega perpustakaan mewah yang memiliki buku koleksi terbru. Selain itu RS Islam di zaman kekhalifahan juga memiliki aufotorium untuk pertemuan dan perkuliahan.  Di kompleks RS juga berdiri mess atau perumahan untuk mahasiswa kedokteran serta staf RS.

Ketujuh, untuk pertama kalinya dalam sejarah, RS islam menyimpan data pasien da rekam medisnya. Konsep itu hingga kini digunakan RS yang ada di seluruh dunia. Kedelapan, selama era islam ilmu farmasi dan profesi apoteker telah berkembang menjadi ilmu dan profesi terkemuka.

Apotek dan apoteker sudah berkembang pesat. Tak heran, jika obat-obata baru tiap waktu terus bermunculan. Pada saat itu, umat islam yang menguasai perdangangan telah menjalin kontak dengan bangsa-bangsa terkemuka di dunia. Ilmu kimia yang menopag farmasi juga berkembang pesat.

RSdi era keemasan islam bertugas untuk merawat seluruh pasien baik laki-laki maupun perempua sampai benar-benar sembuh. Tak hanya itu, seluruh biaya di taggung pihak RS. Mereka yang dilayani secara prima dan cuma-cuma itu bisa pendatang, orag asing, orag pribumi, kaya atau miskin, bekerja atau pengangguran, bodoh atau pitar, cacat atau normal diperlakukan sederajat dan adil.

Tak ada persyaratan tertentu dan pembayaran. Tak ada pasien yag ditolak untuk dirawat dan berobat. Semua pelayanan di RS itu dilakukan dengan mengharap keridhaan sang pencipta, Allah Azza wa Jalla. Lagi-lagi, islam lebih dahulu unggul dan maju dibandingkan Barat.

Konsep RS islam di era keemasan yang begitu modern itu kemudian ditiru dan dijadikan model oleh bangsa-bangsa di Eropa. Tak cuma itu, barat juga banyak mempelajari kitab-kitab kedokteran yang dihasilkan para dokter Muslim. Adakah RS islam di Indonesia yang meniru konsep RS di keemasan Islam tersebut?

Dikutip dari buku Khazanah

Tuesday, May 03, 2016

Kedokteran Islam di Era Khilafah (Bagian 2)

Tokoh kedokteran lainnya adalah al-Zahrawi (930-1013 M) atau dikenal di Barat sebagai Abulcasis. Dia adalah ahli bedah terkemuka di Arab. Al-Zahrawi menempuh pendidikan di Universitas Cordoba. Dia menjadi dokter istana pada masa khalifah Abdul Rahman III. Sebagian besar hidupnya didedikasikan untuk menulis buku-buku kedokteran dan khususnya masalah bedah.

Salah satu dari empat buku kedokteran yang ditulisnya berjudul "Al - Tastif Liman Ajiz'an al - Ta'lif" - Ensiklopedia ilmu bedah terbaik pada masa pertengahan. Buku ini digunakan di Eropa hingga abad ke-17. Al - Zahrawi menerapkan Cautery untuk mengendalikan pendarahan. Dia juga menggunakan alkohol dan lilin untuk menghentikan pendarahan dari tengkorar selama membedah tengkorak. Al - Zahrawi juga menulis buku tentang operasi gigi.

Dokter Muslim yang juga sangat termasyhur adalah Ibnu Sina atau lebih dikenal dengan Avicenna (980 - 1037). Salah satu kitab kedokteran fenomenal yang berhasil ditulisnya adalah Al - Qanon fii Al - Tibb atau Canon of Medicine. Kitab ini menjadi semacam ensiklopedia kesehatan dan kedokteran yang berisi satu juta kata. Hingga abad ke- 17, kitab itu masih menjadi referensi sekolah kedokteran di Eropa.

Tokoh kedokteran era keemasan Islam adalah Ibnu Rushd atau Averroes (1126 - 1198). Dokter kelahiran Granada, Spanyol itu sangat di kagumi sarjana di Eropa. Kontribusinya dalam dunia kedokteran tercantum dalam karyanya  berjudul "Al - Kuliyyat fii Al - Tibb" (Colliyet). Buku ini berisi rangkuman ilmu kedokteran. Buku kedokteran lainnya berjudul "Al - Taisir" mengupas praktik-praktik kedokteran.

Nama dokter Muslim lainnya yang termasyhur adalah Ibnu Al- Nafis (1208 - 1288 M). Ia terlahir di awal era meredupnya perkembangan kedokteran Islam. Ibnu Al - Nafis sempat menajdi kepala RS AL-Mansuri di Kairo. Sejumlah buku kedokteran ditulisnya, salah satunya yang terkenal adalah " Mujaz al-Qanun". Buku itu berisikritik dan penambahan atas kitab yang ditulis Ibnu Sina.

Beberapa nama dokter Muslim terkemuka yang juga mengembangkan Ilmu kedokteran antara lain; Ibnu Wafis al-Lakhm, seorang dokter yang terkemuka di Spanyol. Ibnu Tufails tabib yang hidup sekitar tahun 1100 - 1185 M. dan al- Ghafiqi, seorang tabib yang mengoleksi tumbuh-tumbuhan dari spanyol dan Afrika.

Setelah abad ke-13 M, ilmu kedokteran yang dikembangkan sarjana-sarjana Islam mengalami stagnasi. Perlahan kemudian surut dan mengalami kemunduran, seiring runtuhnya era kejayaan Islam di abad pertengahan.

Jejak Medis, Warisan RS Al-Nuri

Pada Era keemasan Islam, Ibu kota pemerintahan selalu berubah dari dinasti ke dinasti. Di setiap ibu kota pemerintahan, pastilah berdiri Rumah Sakit yang besar. Selainberfungsi sebagai tempat merawat orang-orang yang sakit,  RS juga menjadi tempat bagi para dokter Muslim mengembangkan Ilmu Medisnya. Konsep RS yang dikembangkan umat Islam pada era keemasan juga memberi banyak pengaruh.

Rs terkemuka pertama dibangun umat Islam berada di Damaskus pada masa pemerintahan khalifah Al-Walid dari Daulah Bani Umayyah pada 706 M. Namun, rumah sakit terpenting yang berada di pusat kekuasaan Daulah Bani Umayyah bernama Al-Nuri. Rumah sakit itu berdiri pada 1156, setelah era kepemimpinan khalifah Nur ad-Din Zinki pada 1156.

Pada masa itu, RS al-Nuri sudah menerapkan rekam medis (medical record). Inilah RS pertama dalam sejarah yang menggunakan rekam medis. Sekolah kedokteran Al-Nuri juga telah meluluskan sederet dokter terkemuka, salah satunya adalah Ibnu Al -Nafis -ilmuan yang menemukan sirkulasi paru-paru. Rs ini melayani masyarakat selama tujuh abad, dan bagiannya hingga kini masih ada.

RS terpenting lainnya yang dibangun umat Islam berada di Baghdad. Ketika khalifah harun Ar-Rasyid berkuasa, dia memerintahkan cucu Ibnu Bahtidhu, yang juga dokter istana bernama Jibril untuk membangun RS di Baghdad. Rs ini berkembang menjadi sebuah pusat kesehatan yang sangat penting. Salah satu pemimpinnya adalah Al-Razi, ahli penyakit dalam termasyhur.

RS terkemuka lainnya di Baghdad adalah al-Adudi yang dibangun pada 981 M, setelah khalifah Adud al-Daulah. Bangunan RS tersebut merupakan bangunan termegah di baghdad sebelum era modern. Rs tersebut dilengkapi dengan peralatan dan perlengkapan yang paling lengkap dan terkemuka pada masanya. RS ituhancur lebur ketika bangsa Mongol yang dipimpin hulagu khan menyerang baghdad pada 1258 M.

Ilmu keddokteran islam juga berkembang di Mesir. Pada 872 M, Ahmed Ibnu Tulun membangun RS Al-Fusta di kota Fustat, sekarang Kairo. Pada 1284 M, khalifah al-Masur Qalawun juga membangun Rs terkemuka bernama al-Mansuri. DI Tunisia, pada 830 M, Pangeran Ziyada Allah I membangun RS al-Qayrawan di wilayah kota al-Dimnah. RS ini sudah menerpakan pemisahan antara ruang tunggu pungunjung dan pasien.

Di Maroko, pada 1190, khalifh al-Mansur Ya'qub Ibnu Yusuf, membangun RS Marakesh. Itu adalah RS terbesar dan terindah karena dihiasi taman yang dipenuhi dengan bunga dan pohon buah-buahan. Ilmu medis juga berkembang pesat di Spanyol. Pada tahun 1366 M, Pangeran Muhammad Ibnu Yusuf Ibnu Nasr, membangun RS Granada di kota Granada.

Kontribusi dokter Muslim abad pertengahan.
Bakteriologi
Ilmu yang mempelajari kehidupan dan klasifikasi banteri. Dokter Muslim yang banyak memberi perhatian pada bidang ini adalah Al-razi serta Ibnu Sina.
Anesthesia
Suatu tindakan menghilangkan rasa sakit ketika melakukan pembedahan dan berbagai prosedur lainnya yang menimbulkan rasa sakit pada tubuh. Ibnu Sina tokoh yang memulai mengulirkan ide menggunakan anastesi oral. Ia mengakui opium sebagai peredam rasa sakit yang sangat manjur.
Surgery
Bedah atau pembedahan adalaha spesialisasi dalam kedokteran yang mnegobati penyakit atau luka dengan operasi manual dan instrumen. Dokter Islam yang berperan dalam bedah adalah al-Razi, Abu al-Qasim Khalaf Ibnu Abbas Al-Zahrawi.
Opthamology
Cabang kedokteran yang berhubungan dengan penyakit dan bedah saraf mata, otak serta pendengaran. Dokter muslim yang banyak memberi kontribusi pada Ophtamology adalah Ibnu al-haitham (965 - 1039 M). Selain itu, Ammar bin Ali dari Mosul juga ikut mencurahkan kontribusinya.
Psikoterapi
Serangkaian metode berdasarkan ilmu-ilmu psikologi yang digunakan untuk mengatasi gangguan kejiwaan atau mental seseorang. Dikter Muslim yang menerapkan psikoterapi adalah Al-Razi serta Ibnu Sina.

Silahkan baca juga bagian pertamanya
Dikutip dari buku Khazanah

Kedokteran Islam di Era Khilafah (Bagian 1)

"Ilmu Kedokteran tak lahir dalam waktu semalam," Ujar Dr. Ezzat Abouleish MD dalam tulisannya berjudul Contribution of Islam to Medicine. Studi kedokteran yang berkembang pesat di era modern ini merupakan puncak dari usaha jutaan manusia, baik dikenal maupun tidak, sejak ribuan tahun silam.

Saking pentingnya, ilmu kedokteran selalu diwariskan dari generasi kegenerasi dan bangsa ke bangsa. Cikal bakal ilmu medis sudah ada sejak dahulukala. Sejumlah peradaban kuno, seperti Mesir, Yunani, Roma,Persia, India serta Cina sudah mulai mengembangkan dasar-dasar ilmu kedokteran dengan cara sederhana.

orang Yunani Kuno mempercayai Asclepius sebagai dewa kesehatan. Pada era ini, menurut Geoffrey Chaucer, penulis buku Cantenbury Tales, di Yunani telah muncul beberapa dokter atau tabib terkemuka. Tokoh Yunani yang banyak berkontribusi mengembangkan ilmu kedokteran adalah Hippocrates atau 'Ypocras" (5-4 SM). Dia adalah tabib Yunani yang menulis dasar-dasar pengobatan.
Selain itu, ada juga nama Rufus of Ephesus (1M) di Asia Minor. Ia adalah dokter yang berhasil menyusun lebih dari 60 risalat ilmu kedokteran Yunani. Dunia juga mengenal Dioscorides. Dia adalah penulis risalat pokok-pokok kedokteran yang menjadi dasar pembentukan farmasi selama beberapa abad. Dokter asal Yunani lainnya yang paling berpengaruh adalah Galen pada 2 M.

Ketika era kegelapan mencengkram barat pada abad pertengahan, perkembangan ilmu kedokteran diambil alih oleh dunia Islam yang berkembang pesat di Timur Tengah.

Menurut Ezzat Abouleish, seperti halnya Ilmu-ilmu yang lain, perkembangan kedokteran Islam melalui tiga periode pasang-surut.

Periode pertama dimulai dengan pergerakan penerjemahan literatur kedokteran dari Yunani dan bahasa lainnya kedalam bahasa Arab yang berlangsung pada abad ke-7 hingga ke-8 Masehi. Pada Masa ini, sarjana dari Suriah dan persia secara gemilang dan jujur menerjemahkan literatur dari Yunani dan Syiria ke dalam bahasa Arab.

Buah pikiran para tabib di Era Yunani Kuno secara gencar di alih bahasakan. Adalah khalifah  Al-Ma'mun dari Dinasti Abbasiyah yang mendorong para sarjana untuk berlomba-lomba menerjemahkan literatur penting kedalam bahasa Arab. Khalifah pun menawarkan bayaran yang sangat tinggi, berupa emas bagi para sarjana yang bersedia menerjemahkan karya-karya kuno.

Sejumlah sarjana terkemuka ikut ambil bagian dalam proses transfer pengetahuan itu. tercatat sejumlah tokoh seperti, Jurjis Ibnu-Bakhtisliu, Yuhanna Ibnu Masawih serta Hunain Ibnu Ishak ikut menerjemahkan literatur kuno. Selain melibatkan sarjana-sarjana Islam, tak sedikit pula dari para penerjemah itu yang beragama kristen. Mereka diperlakukan secara terhormat oleh penguasa Muslim.
Proses transfer ilmu kedokteran yang berlangsung pada abad ke-7 dan ke-8 M membuahkan hasil. Pada abad ke-9 hingga ke-13 M, dunia kedokteran ISlam berkembang begitu pesat. Sejumlah Rumah sakit (RS) besar berdiri. Pada masa kejayaan Islam, RS tak hanya berfungsi sebagai tempat perawatan dan pengobatan para pasien, namun juga menjadi tempat menimba ilmu bagi para dokter baru.

Tak heran, bila penelitian dan pengembangan yang begitu gencar telah menghasilkan ilmu medis baru. Era kejayaan peradaban Islam ini telah melahirkan sejumlah dokter terkemuka dan berpengaruh di dunia kedokteran, hingga sekarang. Ezzat Abousleish mengatakan bahwa "Islam benyak memberi kontribusi pada pengembangan ilmu kedokteran."

Sekolah kedokteran pertama yang dibangun ummat Islam adalah sekolah Jindi Shapur. Khalifah dari Dinasti Abbasiyah yang mendirikan kota Baghdad mengangkat Jundis Ibnu Bahtishu sebagai dekan sekolah kedokteran itu. Pendidikan kedokteran yang diajarkandi Jindi Shapursangat serius dan sistematik. Era kejayaan ISlam telah melahirkan sejumlah tokoh kedokteran terkemuka, seperti Al-Razi, Al-Zahrawi, Ibnu-Sina, Ibnu Rushd, Ibnu Al-Nafis dan Ibnu Maimon.

Al-Razi (841-926) dikenal di Barat dengan nama Razes, Pemilik nama lengkap Abu Bakr Muhammad Ibnu Zakaria al-Razi itu adalah dokter istana Pangeran Abu Saleh Al-Mansur, penguasa Khurasan. Ia lalu pindah ke Baghdad  dan menjadi dokter kepala di Rs Baghdad  dan dokter pribadi khalifah. Salah satu buku kedokteran yang dihasilkannya berjudul "Al-Mansuri" (Liber Mansofis).
Ia meyoroti tiga aspek penting dalam kedokteran, antara lain; kesehatan publik, pengobatan preventif dan perawatan penyakit khusus. Bukunya yang lain berjudul "Al-Murshid". Dalam buku itu al-razi mengupas tentang pengobatan berbagai penyakit. Buku lainnya adalah "AL-Hawi". Buku yang terdiri dari 22 volume itu menjadi salah satu rujukan sekolah kedokteran di Paris. Dia juga Menulis tentang pengobatan cacar air.

Bersambung ke bagian ke -2
Dikutip dari buku Khazanah

Popular Posts

Powered by Blogger.

Facebook